Connect with us

DUNIA

Parah! Simulasi Anti-Teror Jepang Lecehkan Atribut Muslim

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: meta - ai

AKTUALITAS.ID – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Jepang tengah menjadi bulan-bulanan kritik tajam publik internasional. Pemicunya adalah unggahan foto-foto simulasi anti-terorisme yang secara terang-terangan menampilkan pemeran teroris menggunakan atribut identik dengan umat Muslim dan budaya Arab.

Dalam unggahan resmi yang rilis pada 10 September lalu, terlihat sekelompok orang yang memerankan teroris mengenakan penutup kepala menyerupai keffiyeh. Salah satu adegan yang memicu kemarahan memperlihatkan sosok “teroris” berpenutup kepala khas Arab itu sedang memasukkan kepala sanderanya ke dalam tas hitam.

Visual ini langsung memicu ledakan amarah di media sosial. Netizen menilai otoritas Jepang dengan sengaja melanggengkan stereotip usang dan Islamofobia yang selalu mengaitkan orang Arab atau Muslim dengan aksi terorisme.

BACA JUGA  Latihan Militer Gabungan AS, Korsel, dan Jepang, Dapat Kecaman dari Korut

“Mendandani karakter teroris dengan pakaian yang mengingatkan pada wilayah tertentu merupakan bentuk diskriminasi. Saya menuntut permintaan maaf dan penghapusan!” kecam salah satu warganet.

Publik juga mempertanyakan profesionalisme Kemlu Jepang. “Apa yang ingin dicapai Kementerian Luar Negeri Jepang dengan memicu rasisme? Apakah kualitas staf di kementerian benar-benar menurun drastis?” sindir warganet lainnya yang menyebut aksi tersebut mencerminkan sikap kelompok nasionalis xenophobia.

Dihantam gelombang kecaman yang masif, Kemlu Jepang buru-buru mencabut seluruh foto latihan tersebut dari peredaran. Negeri Sakura langsung merilis klarifikasi defensif yang berdalih bahwa pemilihan kostum pemeran teroris sama sekali tidak didasarkan pada kelompok etnis, wilayah, atau agama tertentu.

“Kami menanggapi berbagai pendapat dengan serius,” ucap Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi, dalam keterangan persnya, Jumat (18/9/2026), seraya menyiratkan penyesalan atas “kesalahpahaman” yang terjadi.

BACA JUGA  Barcelona Batalkan Tur ke Jepang karena Pelanggaran Kontrak, Fokus ke Korsel

Sebagai konteks, Kemlu Jepang berkilah bahwa simulasi yang digelar di sebuah fasilitas di Tokyo oleh perusahaan keamanan swasta ini sangat mendesak. Edukasi ini ditujukan untuk membekali warga Jepang yang bepergian atau menetap di luar negeri dengan keterampilan bertahan hidup.

Skenario latihan ini diklaim sengaja dirancang serealistis mungkin dengan berkaca pada tragedi serangan militan di kafe Holey Artisan, Dhaka, Bangladesh pada Juli 2016 silam. Insiden berdarah yang memakan waktu pengepungan 12 jam itu menewaskan 22 korban jiwa, di mana tujuh di antaranya merupakan warga negara Jepang. Latihan anti-teror ini sendiri sudah menjadi agenda rutin pemerintah sejak 2018. (Mun)

TRENDING