Connect with us

EKBIS

Rupiah Melemah Lagi

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali tersungkur tak berdaya menghadapi keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Selasa (22/9/2026) pagi. Ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Fed) menjadi momok utama yang membuat mata uang Garuda tergilas paling parah di kawasan Asia.

Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 27 poin (0,15 persen) ke level Rp17.874 per USD dari penutupan sebelumnya di Rp17.847 per USD. Tekanan bahkan terus berlanjut hingga rupiah terperosok lebih dalam sebesar 0,24 persen ke level Rp17.890 per USD. Sementara itu, Yahoo Finance mencatat pergerakan rupiah berada di kisaran Rp17.808 per USD.

Pelemahan ini mengukuhkan posisi rupiah sebagai mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang tahun 2026. Tercatat, rupiah telah ambruk 6,11 persen sejak akhir 2025 yang saat itu masih bertengger di level Rp16.670 per USD. Nasib rupiah jauh lebih tragis dibandingkan mata uang negara berkembang lainnya seperti rupee India yang turun 5,81 persen, peso Filipina terkoreksi 4,79 persen, dan baht Thailand yang turun 4,13 persen.

BACA JUGA  Rupiah Kembali Terpuruk

Kontras dengan rupiah yang berdarah-darah, sejumlah mata uang Asia justru mampu melawan hegemoni dolar AS. Won Korea Selatan tampil sebagai jawara dengan melesat 1,08 persen ke posisi 1.359,90 per dolar AS. Secara year-to-date (YTD), won bahkan telah mencatatkan penguatan tajam sebesar 4,39 persen, disusul yuan China (naik 3,97 persen), dan ringgit Malaysia (naik 0,75 persen).

Tumbangnya rupiah ini tidak lepas dari sentimen global yang sangat sensitif terhadap arah kebijakan moneter Washington. Prospek suku bunga The Fed yang diprediksi akan terus menanjak membuat para investor menarik dananya dari negara berkembang dan beralih memburu aset berbasis dolar AS. Selama ekspektasi suku bunga tinggi ini bertahan, tekanan berat dipastikan akan terus menghantui pergerakan nilai tukar rupiah ke depan. (Firman/Mun)

BACA JUGA  Sejak Awal 2021, BI Beli Surat Utang Pemerintah Rp13,66 T

TRENDING