Connect with us

DUNIA

Erdogan Tuntut PBB Hapus Hak Veto Sekarang Juga

Aktualitas.id -

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan. [AFP/Matt Durham]

AKTUALITAS.ID – Tatanan global kembali diguncang. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, melontarkan kritik tajam terhadap sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dinilai usang dan tak adil. Sasarannya jelas: rombak total Dewan Keamanan dan hanguskan hak veto.

Melalui artikel terbarunya di Bloomberg bertajuk ‘Pencarian Keadilan Global di Dunia yang Berubah’, Erdogan dengan lantang menyuarakan sentilannya. Slogan khasnya kembali bergema keras.

“Dunia lebih besar dari lima,” tegas Erdogan.

Sindiran telak ini ditujukan langsung untuk lima ‘penguasa’ permanen Dewan Keamanan PBB: Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Rusia, dan China. Selama puluhan tahun, lima negara ini memegang kendali mutlak lewat hak veto untuk menjegal atau meloloskan resolusi krusial dunia.

BACA JUGA  Lawan Kurdi, Erdogan Kerahkan Pasukan Khusus ke Irak

Bagi Erdogan, sistem tersebut adalah bentuk konsentrasi kekuasaan yang menyesatkan. Ia menolak wacana basa-basi soal penambahan anggota tetap baru. Menurutnya, hal itu sama sekali tidak menyentuh akar masalah.

“Sangat penting untuk mengubah kebutuhan akan reformasi menjadi peta jalan yang konkret. Inti dari peta jalan ini seharusnya adalah penghapusan hak veto,” imbuh sang Presiden Turki.

Solusi Radikal Erdogan: Hapus Status Permanen!

Tak hanya melempar kritik, Erdogan menantang PBB dengan solusi radikal yang membalikkan hierarki masa lalu. Ia mendesak pembentukan Dewan Keamanan tanpa keanggotaan tetap.

Kekuasaan harus dikembalikan ke tangan Majelis Umum. Dalam skenario Erdogan, seluruh anggota Dewan Keamanan harus dipilih langsung oleh Majelis Umum untuk masa jabatan tertentu.

BACA JUGA  DK PBB Desak Israel Cabut Blokade Gaza, Krisis Kemanusiaan Makin Parah

Tidak ada lagi negara yang bisa duduk santai selamanya. Jika sebuah negara ingin kembali menjabat, mereka harus membuktikan diri dan merebut kembali kepercayaan mayoritas anggota PBB lewat pemilihan yang adil. Pendekatan ini memastikan tidak ada satu pun negara yang punya kekuatan abadi untuk memveto dan menghalangi kehendak mayoritas komunitas internasional.

“Perkembangan selama seperempat abad terakhir telah menunjukkan tidak ada keseimbangan kekuatan dan tidak ada tatanan internasional yang permanen,” pungkas Erdogan, memberikan peringatan keras bahwa sistem warisan masa lalu sudah tak lagi relevan untuk dunia hari ini. (Mun)

TRENDING