Connect with us

DUNIA

Geger! 45 Perusahaan Ketahuan Beli Ulasan Google Palsu

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Skandal manipulasi reputasi digital mengguncang dunia usaha Singapura. Sebanyak 45 perusahaan terpaksa mengakui telah membeli ulasan palsu untuk mendongkrak citra dan peringkat bisnis mereka di berbagai platform daring.

Komisi Persaingan dan Konsumen Singapura (CCS) mengungkap perusahaan-perusahaan tersebut diwajibkan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, menghentikan praktik penggunaan ulasan palsu, serta menghapus seluruh ulasan yang terbukti tidak autentik.

Kasus ini menjadi salah satu pengungkapan terbesar yang pernah dilakukan otoritas Singapura terkait praktik manipulasi ulasan pelanggan di internet.

Dalam penyelidikannya, CCS menemukan puluhan perusahaan tersebut membeli layanan ulasan palsu dari perusahaan pemasaran digital Reputifly yang dioperasikan oleh Julian Tung Yan Kai. Melalui platform BuyReviewSG dan GetReviewSG, layanan itu menawarkan paket khusus untuk meningkatkan rating dan reputasi bisnis secara instan.

BACA JUGA  Soal Pernyataan Terkait Singapura, KPK Minta Maaf

Ulasan palsu tersebut tersebar di berbagai platform populer, mulai dari Google, Facebook, Tripadvisor, Yelp, Trustpilot hingga Carousell.

Hasil investigasi menunjukkan praktik ini melibatkan sekitar 100 perusahaan yang kini masuk radar penyelidikan. Pada tahap pertama, CCS memeriksa 47 perusahaan dan 45 di antaranya mengakui membeli ulasan palsu.

Sebagai konsekuensi, mereka diwajibkan menghentikan praktik tersebut, memperkuat sistem kepatuhan internal, serta menampilkan permintaan maaf secara mencolok selama enam bulan di situs web, akun media sosial resmi, hingga gerai fisik milik perusahaan.

Sementara itu, dua perusahaan lainnya menolak memenuhi komitmen yang diminta otoritas. Alhasil, penyelidikan terhadap keduanya masih terus berjalan dan tidak menutup kemungkinan berujung pada tindakan hukum lanjutan.

BACA JUGA  New Normal, Dolar Singapura Ambles ke Bawah Rp 10.300

Yang lebih mengejutkan, skema pemalsuan ulasan ini didukung teknologi kecerdasan buatan generatif atau generative AI. Teknologi tersebut digunakan untuk menciptakan ulasan yang tampak alami dan sulit dibedakan dari pengalaman pelanggan sungguhan.

AI digunakan untuk memvariasikan gaya bahasa, struktur kalimat, memasukkan konteks lokal Singapura, hingga menciptakan kesan ulasan yang tidak terlalu sempurna agar terlihat lebih meyakinkan.

Pelanggan bahkan diberikan akses untuk mengedit isi ulasan sebelum dipublikasikan. Reputifly juga mengembangkan sebuah dasbor khusus untuk membuat, mengelola, serta memantau penyebaran ulasan palsu secara sistematis.

Dalam salah satu paket yang ditawarkan, bisnis dapat membeli 35 ulasan bintang lima yang dipublikasikan dalam waktu tujuh hari dengan biaya sekitar S$219. Tak hanya itu, tersedia pula kalkulator rating yang membantu klien menghitung jumlah ulasan bintang lima yang dibutuhkan agar peringkat Google mereka naik sesuai target.

BACA JUGA  Mulai 22 Januari 2020, PS5 Hadir di Indonesia

Menurut CCS, perusahaan yang menggunakan jasa tersebut berasal dari berbagai sektor, mulai dari dokter, kantor hukum, lembaga pendidikan, hingga restoran.

Temuan ini menjadi peringatan keras bagi dunia bisnis digital. Di tengah meningkatnya penggunaan AI, manipulasi reputasi online kini menjadi semakin canggih dan sulit dideteksi. Otoritas Singapura pun memastikan penyelidikan akan diperluas untuk membongkar perusahaan lain yang diduga terlibat dalam jaringan ulasan palsu tersebut.

Kasus ini sekaligus menjadi alarm bagi konsumen bahwa rating tinggi dan deretan ulasan positif di internet tidak selalu mencerminkan pengalaman pelanggan yang sebenarnya. (Mun)

TRENDING