Connect with us

DUNIA

Pasar Jadi Kuburan! Hujan Bom Militer Myanmar Renggut 33 Nyawa Sipil

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Kekejaman junta militer Myanmar kembali memicu pertumpahan darah masif. Sebuah pasar grosir yang tengah sibuk di Kota Kyauktaw, Negara Bagian Rakhine, luluh lantak dibombardir serangan udara pada Selasa (29/9/2026) siang waktu setempat. Tragedi ini menewaskan sedikitnya 33 warga sipil dan melukai 36 orang lainnya.

Keterangan dari Tentara Perlawanan Arakan menyebutkan bahwa gempuran mematikan itu berasal dari sebuah pesawat tempur militer yang menjatuhkan dua bom berkekuatan besar tepat di dekat area pasar lokal. Korban tewas berjatuhan dari berbagai kalangan; pedagang, pembeli, hingga pejalan kaki tak bersalah. Kelompok perlawanan memperingatkan bahwa angka kematian ini sangat mungkin terus bertambah akibat parahnya luka para korban.

BACA JUGA  Pemerintah Lakukan Impor 2,5 Juta Ton Beras pada 2024 untuk stabilisasi pasokan

Wai Hun Aung, pejabat senior tim penyelamat di Rakhine, mengonfirmasi kengerian di lokasi kejadian. Ia menyebut insiden ini sebagai salah satu serangan udara paling brutal di wilayah tersebut. Pasar Kyauktaw diketahui merupakan denyut nadi ekonomi dan pusat grosir utama yang selalu dipadati masyarakat dari seluruh penjuru negara bagian.

Kondisi pasca-serangan yang beredar luas di media sosial memperlihatkan situasi bak kota mati. Bangunan-bangunan pasar hancur dilalap kobaran api, kendaraan warga rusak parah, hingga jembatan di dekat lokasi kejadian runtuh berantakan.

Hingga berita ini diturunkan, militer Myanmar belum memberikan pernyataan resmi terkait pembantaian di Kyauktaw. Namun dalam berbagai insiden serupa sebelumnya, junta selalu berdalih bahwa mereka hanya menyasar “target militer yang sah” dan menuding kelompok pro-demokrasi sebagai pelaku terorisme.

BACA JUGA  Memburuknya Keamanan, Dubes RI Minta WNI Segera Pergi dari Myanmar

Serangan udara membabi buta ini disinyalir sebagai bentuk kepanikan junta militer di tengah menyusutnya wilayah kekuasaan mereka. Rakhine adalah salah satu benteng utama kelompok perlawanan etnis. Tentara Arakan yang bersenjata lengkap dan terlatih telah melancarkan serangan balasan sejak November 2023, serta sukses merebut markas militer strategis dan menguasai 14 dari 17 kota di negara bagian tersebut.

Sejak kudeta berdarah pada 2021 yang menggulingkan pemerintahan Aung San Suu Kyi, Presiden Min Aung Hlaing dan junta militernya terus merespons hilangnya wilayah kekuasaan darat mereka dengan menjatuhkan bom udara mematikan yang kerap mengorbankan warga sipil. (Mun)

TRENDING