Connect with us

EKBIS

Baru Buka, Rupiah Langsung Ngacir 39 Poin ke Rp17.126

Aktualitas.id -

Ilustrasi foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan pada perdagangan Selasa pagi (21/4/2026). Mata uang Garuda bahkan menjadi salah satu yang terkuat di kawasan Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan data Refinitiv, hingga pukul 09.10 WIB, rupiah berada di level Rp17.126 per dolar AS, menguat 39,7 poin atau 0,23 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Sementara itu, data Bloomberg mencatat rupiah berada di kisaran Rp17.135 per dolar AS, menguat sekitar 33 poin atau 0,19 persen dari posisi sebelumnya di Rp17.168 per dolar AS.

Adapun berdasarkan Yahoo Finance, rupiah terpantau berada di level Rp17.184 per dolar AS, cenderung stagnan dibandingkan pembukaan perdagangan sebelumnya.

Penguatan rupiah juga sempat membawa mata uang domestik ini menyentuh level Rp17.100 per dolar AS, sekaligus menempatkannya sebagai mata uang dengan performa terbaik di Asia pada pagi ini, dengan apresiasi sekitar 0,16 persen.

Di kawasan Asia, penguatan juga terjadi pada sejumlah mata uang lainnya. Won Korea Selatan menguat 0,06 persen ke level KRW 1.471 per dolar AS. Ringgit Malaysia dan dong Vietnam masing-masing naik 0,03 persen, sementara yuan China terapresiasi tipis sekitar 0,02 persen.

Namun, tidak semua mata uang Asia bergerak di zona hijau. Peso Filipina mencatat pelemahan terdalam sebesar 0,26 persen ke level PHP 59,95 per dolar AS. Baht Thailand melemah 0,22 persen, diikuti yen Jepang yang turun 0,11 persen, dolar Taiwan melemah 0,08 persen, serta dolar Singapura yang terkoreksi 0,04 persen.

Pergerakan mata uang global juga menunjukkan tren yang bervariasi. Mata uang utama negara maju seperti euro dan poundsterling Inggris masing-masing melemah 0,06 persen, sementara dolar Australia turun 0,04 persen terhadap dolar AS.

Secara keseluruhan, dari 11 mata uang Asia yang dipantau, lima mata uang menguat, lima melemah, dan satu stagnan terhadap greenback.

Penguatan rupiah sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang berada di zona hijau. Hal ini mengindikasikan adanya tekanan terhadap dolar AS, serta meningkatnya minat investor terhadap aset di pasar negara berkembang.

Meski demikian, pergerakan yang masih fluktuatif di sejumlah mata uang menunjukkan bahwa sentimen global tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar valuta asing.

Dengan kondisi pasar yang dinamis, pelaku pasar diharapkan tetap mencermati perkembangan global dan kebijakan ekonomi, baik dari dalam negeri maupun internasional, yang dapat memengaruhi arah pergerakan rupiah ke depan. (Firmansyah/Mun)

TRENDING