Connect with us

EKBIS

IHSG Anjlok di Awal Pekan

Aktualitas.id -

Ilustrasi dok, aktualitas.id a

AKTUALITAS.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menunjukkan volatilitas tinggi pada pembukaan perdagangan Senin (29/6/2026). Sempat melesat ke zona hijau, indeks acuan Bursa Efek Indonesia itu hanya bertahan beberapa menit sebelum akhirnya berbalik melemah di tengah derasnya sentimen global.

Pada awal perdagangan pukul 09.00 WIB, IHSG sempat menguat 35,90 poin atau 0,61 persen ke level 5.932,03. Optimisme tersebut didorong aksi beli di sejumlah saham unggulan, terutama sektor energi dan keuangan.

Namun euforia itu tak bertahan lama. Memasuki pukul 09.05 WIB, IHSG langsung kehilangan tenaga dan berbalik turun sekitar 0,20 persen ke kisaran 5.884. Fluktuasi tajam pada menit-menit awal perdagangan memperlihatkan investor masih memilih bersikap sangat hati-hati menghadapi derasnya sentimen dari dalam maupun luar negeri.

BACA JUGA  Sesi Pembukaan IHSG Naik di Level 4.655

Aktivitas transaksi juga terbilang ramai. Lebih dari satu miliar lembar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi ratusan miliar rupiah hanya dalam beberapa menit pertama perdagangan. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, DSSA, dan MAPI menjadi emiten dengan nilai transaksi terbesar.

Tekanan terhadap IHSG datang bersamaan dengan meningkatnya ketidakpastian global. Konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran kembali memicu kekhawatiran pasar setelah Washington melancarkan serangan terhadap sejumlah target militer Iran sebagai balasan atas eskalasi di sekitar Selat Hormuz.

Situasi tersebut mendorong harga minyak dunia kembali naik. Minyak Brent menguat ke kisaran US$72 per barel, sementara minyak mentah WTI naik mendekati US$70 per barel. Kenaikan harga energi memunculkan kekhawatiran baru terhadap inflasi global sekaligus prospek pertumbuhan ekonomi dunia.

BACA JUGA  IHSG Menguat Tipis 0,3 Poin ke Level 5.959

Tak hanya faktor geopolitik, pekan ini juga dipenuhi sederet agenda ekonomi penting yang berpotensi mengguncang pasar keuangan. Investor menunggu rilis inflasi Indonesia, neraca perdagangan, aktivitas manufaktur China, inflasi Eropa, hingga laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga global.

Pergerakan bursa Asia juga mencerminkan tingginya kehati-hatian investor. Sebagian indeks bergerak melemah, sementara sebagian lainnya masih mampu bertahan di zona hijau. Kondisi tersebut memperlihatkan pasar masih terus menghitung dampak konflik Timur Tengah terhadap stabilitas ekonomi dan pasokan energi dunia.

Di sisi lain, Wall Street juga masih dibayangi aksi jual pada saham-saham teknologi. Fenomena yang mulai disebut sebagai “AI fatigue” membuat investor mempertanyakan besarnya investasi perusahaan teknologi pada kecerdasan buatan dibanding potensi keuntungan yang akan diperoleh di masa mendatang.

BACA JUGA  Kamis Pagi, IHSG Dibuka Naik 36 Poin ke Level 6.588

Dengan kombinasi sentimen geopolitik, lonjakan harga minyak, serta banjir data ekonomi penting sepanjang pekan, pelaku pasar memperkirakan volatilitas IHSG masih akan tetap tinggi. Investor pun diperkirakan akan lebih selektif dalam mengambil posisi sambil menunggu arah baru pasar global. (Firman/Mun)

TRENDING