EKBIS
Rupiah Ambruk di Awal Perdagangan
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali membuka perdagangan di zona merah. Pada perdagangan Selasa (28/7/2026), mata uang Garuda melemah ke level Rp18.070 per dolar Amerika Serikat (AS) di tengah menguatnya dolar AS dan sikap hati-hati investor yang menanti keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp18.070 per dolar AS, melemah 61 poin atau sekitar 0,34 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.009 per dolar AS.
Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan pergerakan yang berbeda. Pada waktu yang sama, rupiah tercatat berada di kisaran Rp17.990 per dolar AS, dibandingkan pembukaan perdagangan sehari sebelumnya di sekitar Rp17.968 per dolar AS. Perbedaan angka tersebut dapat terjadi karena masing-masing penyedia data menggunakan metode dan waktu pencatatan yang berbeda.
Di kawasan Asia, tekanan terhadap rupiah menjadi salah satu yang paling besar pada awal perdagangan. Selain rupiah, sejumlah mata uang regional juga bergerak melemah terhadap dolar AS, antara lain dolar Taiwan, won Korea Selatan, baht Thailand, dolar Singapura, peso Filipina, yuan China, ringgit Malaysia, hingga yen Jepang.
Sebaliknya, hanya sedikit mata uang Asia yang mampu bertahan di zona hijau. Rupee India mencatat penguatan paling besar terhadap dolar AS, sementara dolar Hong Kong bergerak menguat tipis.
Tekanan terhadap rupiah terjadi seiring meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar global menjelang keputusan kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat. Investor masih mencermati arah suku bunga The Fed yang dinilai akan sangat memengaruhi arus modal, pergerakan dolar AS, serta nilai tukar berbagai mata uang negara berkembang.
Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga terus memonitor perkembangan kondisi ekonomi domestik yang turut memengaruhi sentimen terhadap rupiah.
Meski demikian, pergerakan nilai tukar masih sangat dipengaruhi dinamika pasar global dan dapat berubah sepanjang sesi perdagangan. Investor kini menunggu sinyal baru dari The Fed yang diperkirakan menjadi penentu arah pasar keuangan dalam beberapa hari ke depan. (Firman/Mun)
-
RIAU29/07/2026 00:01 WIBPolisi Tahan Tengku Fauzi dalam Dugaan Kasus Korupsi Anggaran Satpol PP
-
RIAU28/07/2026 23:00 WIBBupati Kasmarni Raih Penghargaan pada Milad ke-51 MUI Bengkalis
-
EKBIS28/07/2026 23:25 WIBPRO AVL Indonesia 2026 Resmi Dibuka, Hadirkan 60 Brand Global dan Peluang Bisnis Industri AVL
-
OTOTEK28/07/2026 21:00 WIBHarga Terjangkau, MacBook Neo 2 Dipastikan Bakal Lebih Ngebut
-
FOTO29/07/2026 17:00 WIBFOTO: Kampanye Pariwisata Malaysia di Rangkaian KAI Commuter
-
NASIONAL28/07/2026 22:30 WIBMenteri LH Jumhur: Gerakan Tobat Nasional Ekologis Segera Diluncurkan, Libatkan Mahasiswa dan Masyarakat
-
POLITIK29/07/2026 11:00 WIBBawaslu: Ancaman Terbesar Pemilu Kini Bukan Lagi di TPS
-
OLAHRAGA28/07/2026 21:30 WIBChelsea vs AC Milan, Luka Modric dan Cole Palmer Siap Tampil di Stadion GBK

















