EKBIS
Rupiah Naik 33 Poin ke Rp17.866
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Rabu, (7/10/2026), dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda mendapat tenaga positif di tengah tekanan terhadap dolar dan masih kuatnya ketidakpastian global.
Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp17.866 per dolar AS, menguat 33 poin atau 0,18 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp17.899 per dolar AS.
Penguatan tersebut menjadi sinyal positif setelah rupiah sebelumnya masih bergerak di sekitar level Rp17.900 per dolar AS.
Namun, data pasar menunjukkan perbedaan tipis antarplatform. Yahoo Finance mencatat rupiah berada di kisaran Rp17.905 per dolar AS pada waktu yang sama.
Sementara berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.820 per dolar AS, atau menguat sekitar 0,39 persen dibandingkan penutupan Selasa (6/10/2026) di Rp17.890 per dolar AS.
Data Bloomberg lainnya mencatat pembukaan rupiah di sekitar Rp17.891 per dolar AS, menguat 0,04 persen dari posisi penutupan sebelumnya.
Meski rupiah dibuka menguat, tekanan terhadap mata uang Garuda belum sepenuhnya hilang.
Pasar masih mencermati sentimen global, terutama perkembangan data ketenagakerjaan Amerika Serikat, arah kebijakan moneter, serta meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pada perdagangan sebelumnya, rupiah hanya mampu menguat tipis 0,03 persen dan berakhir di level Rp17.890 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS atau DXY yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia masih menunjukkan penguatan.
Pada pukul 09.00 WIB, DXY tercatat naik 0,17 persen ke level 102,005.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa penguatan rupiah pagi ini belum sepenuhnya mencerminkan perubahan besar dalam peta kekuatan mata uang global.
Pergerakan rupiah sepanjang perdagangan hari ini akan sangat bergantung pada kombinasi sentimen domestik dan global.
Dari eksternal, pasar akan mencermati perkembangan ekonomi AS, pergerakan dolar, arah suku bunga global, serta eskalasi geopolitik.
Sementara dari dalam negeri, kondisi fundamental ekonomi, arus modal asing, kebijakan pemerintah, serta respons Bank Indonesia terhadap volatilitas pasar akan menjadi faktor penting. (Firman/Mun)
-
NASIONAL07/10/2026 09:00 WIBSarifah Desak Batas Tegas Pengawasan Siber Negara
-
RAGAM06/10/2026 13:30 WIBOktober Jadi Momen Pencairan BSU, Siapa yang Kebagian?
-
EKBIS06/10/2026 11:30 WIBBBM Subsidi Dipastikan Tak Naik Sampai Akhir 2026
-
POLITIK06/10/2026 13:00 WIBRUU Pemilu Memanas, PKB Dorong Opsi Threshold 5-6 Persen
-
POLITIK07/10/2026 07:00 WIBPDIP Dorong Parliamentary Threshold 6 Persen
-
NASIONAL06/10/2026 14:00 WIBOmbudsman Bongkar Dugaan Penyiksaan Sadis di Balik Jeruji Cibinong
-
POLITIK07/10/2026 06:00 WIBBW: Gibran Mundur Lebih Terhormat
-
NUSANTARA07/10/2026 07:30 WIBLansia 74 Tahun Tewas Saat Bakar Daun Jati di Ladang
















