Connect with us

NASIONAL

Eddy Soeparno: Pertamax Naik karena Harga Minyak Dunia

Aktualitas.id -

Wakil Ketua MPR RI sekaligus anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno, dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Lonjakan harga Pertamax hingga menembus Rp16.250 per liter memicu reaksi publik. Namun di tengah keluhan konsumen, Wakil Ketua MPR RI sekaligus anggota Komisi XII DPR RI, Eddy Soeparno, menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi tersebut merupakan konsekuensi yang tidak bisa dihindari.

Menurut Eddy, Pertamax sejak awal memang tidak termasuk bahan bakar yang memperoleh subsidi pemerintah. Karena itu, harga jualnya sangat bergantung pada perkembangan harga minyak mentah dunia yang dalam beberapa bulan terakhir bertahan pada level tinggi.

“Harga BBM jenis Pertamax dan BBM premium lainnya tentu mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia,” kata Eddy, Rabu (10/6/2026).

Pernyataan tersebut muncul setelah PT Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi mulai Rabu dini hari. Kenaikan yang terjadi terbilang signifikan dan langsung menjadi perbincangan luas di masyarakat.

Harga Pertamax RON 92 kini naik menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300 per liter. Sementara Pertamax Green RON 95 ikut melonjak menjadi Rp17.000 per liter dari sebelumnya Rp12.900 per liter.

Eddy menegaskan bahwa Pertamax bukan termasuk Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) maupun Jenis Bahan Bakar Khusus Penugasan (JBKP). Dengan status tersebut, produk ini tidak mendapatkan perlindungan subsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Karena itu, ketika harga minyak dunia bergerak naik, dampaknya akan langsung tercermin pada harga jual BBM nonsubsidi di dalam negeri.

Ia juga mengingatkan bahwa kenaikan harga energi global tidak hanya berdampak pada BBM kendaraan pribadi. Sebelumnya, harga avtur untuk kebutuhan operasional maskapai penerbangan juga telah mengalami kenaikan yang berimbas pada biaya transportasi udara.

Menurut Eddy, manajemen Pertamina telah beberapa kali memaparkan perkembangan kondisi energi global kepada DPR. Setiap keputusan penyesuaian harga disebut selalu melalui koordinasi dengan pemerintah sebagai regulator sektor energi nasional.

Meski demikian, kenaikan harga Pertamax tetap menjadi perhatian karena berpotensi menambah beban pengeluaran pengguna kendaraan yang selama ini memilih BBM nonsubsidi. Di sisi lain, pemerintah masih mempertahankan harga Pertalite dan Biosolar subsidi agar tidak ikut terdampak gejolak harga minyak dunia.

Dengan harga Pertamax kini berada di level Rp16.250 per liter dan Pertamax Green Rp17.000 per liter, masyarakat dihadapkan pada pilihan antara beralih ke BBM subsidi atau tetap menggunakan bahan bakar dengan kualitas oktan lebih tinggi meski harus membayar lebih mahal.

Perdebatan pun mengemuka. Di satu sisi kenaikan dianggap sebagai konsekuensi mekanisme pasar global, namun di sisi lain masyarakat berharap pemerintah mampu menjaga keseimbangan antara kebutuhan fiskal negara dan daya beli masyarakat yang terus tertekan oleh kenaikan berbagai kebutuhan hidup. (Mun)

TRENDING