Connect with us

NASIONAL

Dituduh Kunjungi Rumah Dubes Singapura Malam-Malam, Dino Patti: 100 Persen Hoaks

Aktualitas.id -

Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal, foto: Ist

AKTUALITAS.ID – Mantan Wakil Menteri Luar Negeri RI, Dino Patti Djalal, membantah keras kabar yang menyebut dirinya mendatangi kediaman Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Kwok Fook Seng, di Jakarta pada Minggu malam pekan lalu.

Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) itu menyebut informasi yang beredar di media sosial tersebut tidak memiliki dasar fakta dan sepenuhnya merupakan cerita yang direkayasa.

Dalam video yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya, Minggu (25/10), Dino menegaskan bahwa informasi mengenai dirinya yang disebut mendatangi rumah Dubes Singapura bersama Saiful Mujani adalah kabar palsu.

“Berita itu 100 persen fiktif, totally fabricated,” tegas Dino.

Menurut Dino, pada waktu yang disebutkan dalam narasi tersebut dirinya justru tengah berada di Perth, Australia. Ia menghadiri forum internasional terkait perubahan iklim yang diselenggarakan NSM Global Citizen dan baru kembali ke Indonesia beberapa hari kemudian.

BACA JUGA  Habiburokhman Tegaskan Isu Keterlibatan Partai Cokelat di Pilkada 2024 Hoaks

Dino mengaku mengenal baik Kwok Fook Seng yang telah bertugas sebagai Duta Besar Singapura di Indonesia sejak 2022. Namun ia memastikan belum pernah berkunjung ke rumah sang dubes seperti yang ramai diberitakan.

Meski demikian, Dino menanggapi isu tersebut dengan nada santai. Ia bahkan berkelakar akan menghubungi Kwok untuk mengundangnya makan di AKC Library Cafe miliknya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

“Saya akan mengundang beliau makan dendeng balado masakan ibu saya yang lezat sekali,” ujarnya.

Di balik candaan tersebut, Dino justru mengaku prihatin terhadap maraknya penyebaran informasi yang menurutnya sengaja dirancang untuk menciptakan persepsi tertentu di ruang publik.

Ia menyebut fenomena tersebut sebagai modus baru penyebaran disinformasi yang dilakukan secara terorganisir melalui berbagai akun media sosial sehingga seolah-olah tampak sebagai opini organik masyarakat.

BACA JUGA  Facebook Komitmen Hapus Hoaks Terkait Vaksin COVID-19

Dino bahkan menyebut keberadaan kelompok yang ia istilahkan sebagai “tim siluman” yang diduga aktif memproduksi dan menyebarkan narasi fiktif untuk membentuk opini publik.

Menurutnya, praktik semacam itu patut diwaspadai karena berpotensi mengancam kebebasan berpendapat dan menciptakan iklim intimidasi terhadap kelompok masyarakat sipil.

Lebih jauh, Dino mengaku akan menyampaikan persoalan tersebut kepada Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid. Ia berharap pemerintah dapat memberi perhatian serius terhadap penyebaran informasi palsu yang berpotensi menyesatkan masyarakat.

Dalam klarifikasinya, Dino juga membantah tudingan yang mencoba menggambarkan dirinya tidak nasionalis hanya karena pandangannya mengenai hubungan Indonesia dan Singapura.

Ia menegaskan telah mengabdi kepada Republik Indonesia selama puluhan tahun sebagai diplomat dan pejabat negara. Menurutnya, rekam jejak pengabdiannya telah mendapatkan pengakuan melalui sejumlah penghargaan kenegaraan.

Sebelumnya, Dino menjadi sorotan setelah mengomentari hubungan Indonesia-Singapura. Ia menilai berbagai tuduhan bahwa Singapura berupaya menjatuhkan pasar modal Indonesia atau melakukan konspirasi ekonomi tidak memiliki dasar yang kuat.

BACA JUGA  Polisi: Sebanyak 104 Orang Ditetapkan Jadi Tersangka Kasus Hoaks COVID-19

Menurut Dino, hubungan kedua negara telah dibangun selama bertahun-tahun melalui kerja sama ekonomi, investasi, pendidikan, hingga penanganan berbagai krisis regional.

Ia menegaskan bahwa stabilitas Indonesia juga menjadi kepentingan Singapura sehingga narasi konspirasi yang berkembang justru bertentangan dengan realitas hubungan bilateral kedua negara.

“Tabu dan haram bagi elit politik Singapura untuk berkonspirasi mencelakai Indonesia. Sebagaimana juga tabu dan haram bagi Indonesia untuk mencelakai Singapura,” tegasnya.

Pernyataan keras Dino tersebut kini menjadi sorotan publik. Di tengah derasnya arus informasi di media sosial, mantan diplomat senior itu mengingatkan pentingnya verifikasi fakta agar ruang publik tidak dipenuhi narasi yang menyesatkan dan berpotensi memecah kepercayaan masyarakat. (Bowo/Mun)

TRENDING