OTOTEK
Industri Otomotif Diterpa Tarif AS, Pakar ITB: Saatnya Ekspansi ke Pasar ASEAN, Timur Tengah dan Afrika
AKTUALITAS.ID – Kebijakan tarif resiprokal sebesar 32 persen yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap produk komponen otomotif Indonesia menjadi tantangan besar bagi industri otomotif nasional. Namun, di balik tantangan itu, tersimpan peluang emas yang bisa dimanfaatkan secara strategis.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, mengungkapkan sejumlah langkah penting yang bisa ditempuh pelaku industri untuk menghadapi tekanan tersebut.
“Diversifikasi pasar ekspor secara agresif adalah kunci. Fokuslah pada kawasan ASEAN, Timur Tengah, Afrika, dan negara-negara lain yang juga terdampak oleh kebijakan Trump,” ujar Yannes, Rabu (10/4/2025).
Menurutnya, kawasan-kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk menjadi pasar baru yang menjanjikan bagi produk otomotif Indonesia. Untuk itu, pelaku industri dituntut untuk meningkatkan kualitas produk, menciptakan inovasi desain, serta mengedepankan efisiensi dalam biaya produksi.
“Kualitas, inovasi, dan efisiensi adalah tiga pilar utama untuk memenangkan persaingan global,” tegasnya.
Tak hanya itu, Yannes menyoroti peluang besar dalam pengembangan komponen kendaraan listrik (EV) dan hibrida (HEV). Menurutnya, tren global yang semakin mengarah pada kendaraan ramah lingkungan harus dijadikan momentum bagi Indonesia untuk masuk ke dalam rantai pasok global.
“Pasar global sedang bergerak menuju elektrifikasi kendaraan. Ini peluang yang harus dimanfaatkan Indonesia untuk memperkuat posisinya di mata dunia,” katanya.
Menariknya, meskipun terkena tarif 32 persen, Indonesia masih lebih baik dibandingkan negara pesaing lain seperti Vietnam (46%), Thailand (37%), dan China (34%). Menurut Yannes, hal ini adalah keunggulan kompetitif yang tidak boleh disia-siakan.
“Indonesia harus cerdas memanfaatkan celah ini untuk memperluas pangsa pasar di AS dan memperkuat daya saing global,” ujarnya.
Yannes juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan lembaga riset guna menciptakan solusi strategis yang mampu menjawab tantangan ini secara komprehensif.
“Sinergi antara semua pemangku kepentingan menjadi kunci utama dalam menghadapi era baru perdagangan global,” tambahnya.
Dengan strategi yang tepat, Yannes optimistis industri otomotif Indonesia tak hanya bisa bertahan di tengah badai tarif AS, tetapi juga mampu tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan di pasar global. (YAN KUSUMA/DIN)
-
OTOTEK12/07/2026 19:30 WIBToyota Kijang Super 2026 Hadir Kembali Harga Mulai Rp240 Juta, Irit BBM hingga 25 Km/L
-
OLAHRAGA12/07/2026 20:30 WIBPrediksi Argentina vs Inggris: Duel Messi dan Bellingham Menuju Final Piala Dunia 2026
-
NASIONAL12/07/2026 22:00 WIBFebrie Adriansyah Berpeluang Ajukan Praperadilan
-
OASE13/07/2026 05:00 WIBAl-Qur’an Sebut Orang yang Mengingkari Kitab Allah Tersesat
-
NASIONAL12/07/2026 19:00 WIBPakar Hukum: 100 Juta Mata Awasi Kasus Eks Jampidsus Febrie
-
DUNIA12/07/2026 15:00 WIBAS Hujani Iran dengan Rudal Usai Selat Hormuz Ditutup Total
-
NASIONAL12/07/2026 15:30 WIBKortas Tipidkor Polri Tetapkan Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Tersangka
-
OPINI12/07/2026 20:00 WIBIlusi RUU Perampasan Aset: Jangan Sampai Negara Melegalkan Korupsi dan TPPU Gaya Baru

















