Connect with us

POLITIK

Ritual Adat Jokowi di Lampung Hanya Strategi Pencitraan Politik dengan PSI

Aktualitas.id -

Presiden ke-7 Joko Widodo (kiri) bersama Ibu Negara Iriana Joko Widodo (kanan) menunjukkan jarinya yang telah dicelup tinta seusai menggunakan hak pilihnya di TPS 008, Gambir, Jakarta, Rabu (17/4/2019). AKTUALITAS.ID/HO/DR.

AKTUALITAS.ID – Pengamat politik Nurul Fatta menilai pemilihan Lampung sebagai lokasi awal kegiatan politik Jokowi bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bukan tanpa pertimbangan. pasalnya, setiap simbol dalam kegiatan tersebut memiliki potensi membangun narasi politik di ruang publik.

“Ritual yang dilakukan Jokowi dalam safari politiknya merupakan bagian dari instrumen pencitraan untuk mendongkrak publisitas politik PSI yang sedang dilakukan,” kata Nurul Fatta kepada wartawan, Senin (29/6/2026).

Ia menjelaskan dalam konteks masyarakat Lampung, ritual adat memiliki makna kultural yang kuat. Namun dalam perspektif politik modern, simbol budaya juga dapat digunakan untuk memperkuat pesan komunikasi politik kepada publik yang lebih luas.

Oleh karena itu, menurutnya pemilihan daerah dengan kekuatan tradisi seperti Lampung memberikan efek simbolik yang lebih besar dibanding wilayah lain, terutama ketika dikaitkan dengan aktivitas politik nasional.

BACA JUGA  Menuju New Normal, Jokowi: Masifkan Uji Sampel di Daerah dengan Kurva Tinggi

“Ritual itu bagi orang Lampung sebagai sesuatu yang sangat bermakna, tapi bagi politisi tidak cukup makna. Keunikan dan kemampuan menjadi alat komunikasi politik agar mengundang perhatian publik juga dipertimbangkan,” ujarnya.

Selain itu, penggunaan simbol budaya dalam aktivitas politik merupakan strategi yang umum digunakan dalam politik Indonesia. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada cara publik memaknai simbol tersebut.

Ia menambahkan bahwa dalam era komunikasi politik modern, visual dan simbol sering kali memiliki pengaruh lebih kuat dibandingkan pernyataan verbal. Karena itu, setiap aktivitas politik yang melibatkan simbol budaya dapat dengan cepat menjadi bahan perbincangan publik.

“Penggunaan ritual adat dalam kegiatan politik harus dilakukan dengan hati hati agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau dianggap sebagai eksploitasi budaya untuk kepentingan elektoral,” bebernya. (Micko)

TRENDING