POLITIK
Perselisihan Panas Sjahrir vs Tan Malaka Bikin RI Nyaris Hancur
AKTUALITAS.ID – Republik Indonesia bahkan belum genap berusia satu tahun ketika badai politik besar mengancam dari dalam. Di tengah ancaman Belanda yang ingin kembali menjajah, para pemimpin bangsa justru terlibat benturan strategi yang nyaris menyeret Indonesia ke jurang perpecahan.
Puncak ketegangan itu terjadi dalam Peristiwa 3 Juli 1946, sebuah episode yang oleh sebagian sejarawan disebut sebagai percobaan kudeta pertama dalam sejarah Republik Indonesia. Meski hingga kini masih diperdebatkan, rangkaian peristiwa tersebut menjadi salah satu krisis politik paling serius yang pernah dihadapi Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Diplomasi Sjahrir vs Perlawanan Total Tan Malaka
Di satu sisi berdiri Perdana Menteri Sutan Sjahrir, yang memilih jalur diplomasi untuk mempertahankan kemerdekaan. Menurutnya, Indonesia yang baru berdiri belum memiliki kekuatan militer dan ekonomi yang cukup untuk menghadapi Belanda dan Sekutu dalam perang terbuka.
Di sisi lain, Tan Malaka mengambil posisi yang berseberangan. Bersama para pendukungnya, ia menolak segala bentuk kompromi dengan Belanda. Baginya, kemerdekaan harus dipertahankan melalui perlawanan bersenjata hingga pengakuan penuh diraih.
Perbedaan strategi itu kemudian berubah menjadi pertarungan politik terbuka.
Tan Malaka membentuk Persatuan Perjuangan, koalisi besar yang menghimpun ratusan organisasi politik, laskar rakyat, dan kelompok pemuda. Melalui Kongres Solo pada Januari 1946, mereka mengusung slogan “Merdeka 100 Persen” dan mendesak pemerintah menghentikan seluruh perundingan dengan Belanda.
Tekanan terhadap Kabinet Sjahrir semakin kuat. Namun Presiden Soekarno tetap memberikan dukungan kepada Sjahrir dan mempertahankan kabinetnya.
Sjahrir Diculik, Republik Masuk Masa Darurat
Situasi memanas ketika pemerintah lebih dahulu menangkap Tan Malaka beserta sejumlah tokoh Persatuan Perjuangan. Langkah tersebut memicu kemarahan sebagian simpatisan di kalangan militer.
Pada akhir Juni 1946, rombongan Perdana Menteri Sjahrir yang sedang melakukan perjalanan menuju Yogyakarta dihentikan oleh pasukan yang dipimpin Mayor Abdul Kadir Yusuf.
Tanpa perlawanan bersenjata, Sjahrir beserta beberapa anggota kabinet dibawa secara paksa ke Boyolali. Sementara dua pejabat kabinet berhasil melarikan diri dan melaporkan kejadian tersebut ke pemerintah.
Penculikan kepala pemerintahan itu mengguncang Republik yang masih sangat muda.
Merespons situasi tersebut, Presiden Soekarno mengeluarkan Maklumat Presiden pada 28 Juni 1946, mengambil alih sementara kendali pemerintahan, sekaligus menetapkan keadaan darurat demi menjaga stabilitas negara.
Melalui siaran radio nasional, Soekarno menyerukan agar Sjahrir segera dibebaskan dan mengingatkan bahwa konflik politik tidak boleh diselesaikan dengan kekerasan.
Seruan itu akhirnya dipatuhi. Sjahrir dibebaskan dan kembali ke Yogyakarta dalam keadaan selamat.
Istana Didatangi, Kabinet Diminta Dibubarkan
Krisis ternyata belum selesai.
Pada 3 Juli 1946, sejumlah tokoh Persatuan Perjuangan mendatangi Istana Yogyakarta. Mereka membawa tuntutan agar Presiden Soekarno membubarkan Kabinet Sjahrir dan membentuk Dewan Pimpinan Politik yang dipimpin Tan Malaka.
Soekarno menolak tuntutan tersebut.
Pemerintah kemudian menangkap sejumlah tokoh yang dianggap terlibat dalam gerakan tersebut. Beberapa di antaranya diadili di Mahkamah Tentara Agung dan dijatuhi hukuman penjara, sebelum akhirnya memperoleh grasi pada 1948.
Kudeta Pertama atau Sekadar Krisis Politik?
Hingga kini, Peristiwa 3 Juli 1946 masih menjadi bahan perdebatan para sejarawan.
Sebagian menyebutnya sebagai percobaan kudeta, karena melibatkan penculikan Perdana Menteri, tekanan terhadap Presiden, serta upaya mengganti konfigurasi pemerintahan.
Namun ada pula yang menilai peristiwa itu lebih tepat disebut krisis politik atau konflik konstitusional, karena sasaran utama gerakan tersebut adalah Kabinet Sjahrir, bukan menggulingkan Presiden Soekarno maupun Wakil Presiden Mohammad Hatta sebagai kepala negara.
Apa pun penafsirannya, Peristiwa 3 Juli 1946 menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap Republik pada masa awal kemerdekaan tidak hanya datang dari Belanda dan Sekutu, tetapi juga dari perbedaan tajam strategi perjuangan di antara para tokoh bangsa. (Mun)
-
NASIONAL25/07/2026 09:00 WIBImigrasi: WNA Dilarang Jadi Ketua Acara di Indonesia
-
EKBIS25/07/2026 10:30 WIBHarga Emas Antam Resmi Naik Rp7.000
-
EKBIS25/07/2026 09:30 WIBKabar Baik! BBM Nonsubsidi Masih Lebih Murah Bulan Ini
-
JABODETABEK25/07/2026 05:30 WIBBMKG: Suhu Jakarta Tembus 34 Derajat
-
NASIONAL25/07/2026 10:00 WIBAJI Tagih Permintaan Maaf Prabowo soal Wartawan ‘Londo Ireng’
-
OASE25/07/2026 05:00 WIBAl-Qur’an Bongkar Batas Kemampuan Mata dan Telinga Manusia
-
DUNIA25/07/2026 08:00 WIBSerangan Dahsyat Iran Bikin Pangkalan AS Hancur Lebur
-
NASIONAL25/07/2026 11:00 WIBSudaryono Ancam Tutup Dapur MBG yang Bandel

















