Connect with us

RAGAM

BMKG Ungkap Bulan Paling Kritis Musim Kemarau

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Indonesia bersiap menghadapi fase paling panas tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa puncak musim kemarau 2026 akan berlangsung mulai Juli hingga September, dengan Agustus diperkirakan menjadi periode paling luas terdampak.

Peringatan ini bukan sekadar soal cuaca cerah. Di balik langit tanpa hujan, ancaman kekeringan, krisis air bersih, gangguan produksi pangan, hingga meningkatnya risiko kebakaran lahan mulai membayangi berbagai daerah.

Berdasarkan prakiraan BMKG, pada Juli sekitar 83 zona musim akan memasuki puncak kemarau. Namun situasi diperkirakan meningkat tajam pada Agustus ketika sekitar 369 zona musim atau hampir 49 persen wilayah Indonesia mengalami puncak musim kemarau secara bersamaan.

BACA JUGA  BMKG Prediksi Sejumlah Wilayah Jakarta Diguyur Hujan Disertai Petir

Wilayah yang diprediksi terdampak meliputi sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.

Meski memasuki September jumlah wilayah yang berada di puncak kemarau mulai berkurang, BMKG mengingatkan dampaknya masih akan dirasakan di banyak daerah, terutama kawasan yang rentan terhadap kekeringan.

Yang menjadi perhatian, fenomena El Nino diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027. Berdasarkan analisis BMKG, peluang El Nino berada pada kategori moderat mencapai 98 persen, sementara peluang berkembang menjadi kategori kuat mencapai 62 persen.

Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang periode kering dan mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia selama musim kemarau hingga Oktober 2026.

BACA JUGA  BMKG: Ada Sembilan Titik Panas Karhutla di Riau

BMKG meminta pemerintah daerah tidak menunggu kondisi memburuk. Revitalisasi waduk, pengamanan pasokan air bersih, pengelolaan bendungan PLTA, hingga penyesuaian pola tanam perlu segera dilakukan untuk mengurangi dampak musim kemarau.

Sektor kesehatan juga diminta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi lonjakan polusi udara yang dapat memicu peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama di daerah yang rawan kebakaran hutan dan lahan.

Di sektor pertanian, petani diimbau menyesuaikan jadwal tanam serta menggunakan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan agar risiko gagal panen dapat ditekan.

Dengan puncak kemarau yang tinggal beberapa pekan lagi, BMKG mengingatkan bahwa kesiapan menghadapi musim kering menjadi faktor penting untuk meminimalkan dampak terhadap ketersediaan air, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan pasokan energi. (Kusuma/Mun)

TRENDING