Connect with us

DUNIA

Trump Sebut NATO Tak Pernah Ada untuk Amerika

Aktualitas.id -

Presiden Amerika Serikat Donald Trump, foto: Meta AI

AKTUALITAS.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan kritik keras terhadap NATO, hanya beberapa hari menjelang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) aliansi pertahanan tersebut. Melalui media sosial Truth Social, Trump menyebut hubungan antara Amerika Serikat dan NATO sebagai sesuatu yang “konyol”, karena menurutnya Washington memikul beban jauh lebih besar dibandingkan negara-negara sekutunya.

Dalam unggahannya pada Kamis, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat terus mengeluarkan biaya pertahanan dalam jumlah sangat besar, sementara banyak anggota NATO dinilai belum memberikan kontribusi yang sepadan.

“Mereka tidak ada di sana untuk kita,” tulis Trump.

Pernyataan tersebut kembali menegaskan sikap lama Trump yang menilai pembagian beban di dalam NATO tidak berjalan adil. Ia juga mengunggah grafik yang memperlihatkan besarnya anggaran pertahanan Amerika Serikat dibandingkan sebagian besar negara anggota aliansi.

BACA JUGA  Jika Biden Menang Pilpres, Trump: AS akan Hancur

Bagi Trump, kondisi itu membuat Washington terus menjadi penanggung utama keamanan Eropa, sementara banyak sekutu dinilai belum memenuhi tanggung jawab mereka.

Isu tersebut diperkirakan menjadi salah satu topik yang membayangi KTT NATO pada 7–8 Juli, yang dijadwalkan membahas penguatan pertahanan kolektif, peningkatan kemampuan militer negara anggota, serta strategi menghadapi dinamika keamanan global.

Selama beberapa tahun terakhir, Trump secara konsisten mendesak negara-negara Eropa meningkatkan belanja pertahanan. Bahkan, pada masa jabatan sebelumnya, ia beberapa kali mengancam akan mengurangi komitmen Amerika Serikat terhadap NATO apabila para sekutu tidak meningkatkan kontribusi mereka.

Di bawah tekanan Washington, para pemimpin NATO kemudian menyepakati target baru agar negara anggota meningkatkan belanja pertahanan hingga 5 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2035, jauh lebih tinggi dibanding target sebelumnya.

BACA JUGA  Pasca Penembakan di Washington DC, AS Bekukan Imigrasi Warga Afghanistan

Selain mengkritik pembagian anggaran, pemerintahan Trump juga tengah meninjau kembali penempatan pasukan Amerika Serikat di Eropa. Penarikan sebagian personel dari kawasan tersebut disebut menjadi salah satu opsi dalam evaluasi strategi pertahanan Amerika.

Sejak didirikan pada 1949, NATO berkembang menjadi aliansi pertahanan terbesar di dunia dengan 32 negara anggota. Amerika Serikat tetap menjadi kontributor utama, baik dari sisi anggaran, kekuatan militer, teknologi, maupun kemampuan logistik.

Washington mengoperasikan puluhan ribu personel militer di berbagai pangkalan Eropa dan menyediakan berbagai kemampuan strategis yang menjadi fondasi operasi NATO, mulai dari sistem intelijen satelit, pesawat angkut berat, pengisian bahan bakar di udara, pertahanan rudal, hingga sistem komando terpadu.

Meski demikian, dalam beberapa tahun terakhir banyak negara Eropa mulai meningkatkan anggaran pertahanan, terutama sejak pecahnya perang Rusia-Ukraina. Sejumlah anggota NATO kini telah memenuhi bahkan melampaui target belanja pertahanan yang sebelumnya disepakati.

BACA JUGA  Trump: Perlindungan Imigran Suriah Harus Dicabut

Namun, banyak analis menilai kemampuan strategis NATO masih sangat bergantung pada Amerika Serikat. Tanpa dukungan penuh Washington, aliansi diperkirakan akan menghadapi tantangan besar dalam mobilisasi pasukan, logistik, intelijen, serta proyeksi kekuatan militer berskala besar.

Di sisi lain, para pemimpin Eropa berpendapat bahwa kontribusi dalam NATO tidak hanya diukur dari besarnya anggaran, tetapi juga melalui kesiapan pasukan, modernisasi persenjataan, kemampuan industri pertahanan, dan partisipasi dalam operasi bersama.

Perdebatan mengenai pembagian beban pertahanan inilah yang kembali mengemuka menjelang KTT NATO, sekaligus memperlihatkan bahwa isu tersebut masih menjadi salah satu fokus utama kebijakan luar negeri Trump di bawah doktrin “America First”. (Mun)

TRENDING