Connect with us

DUNIA

Netanyahu: Trump Tak Pernah Larang Serang Lebanon

Aktualitas.id -

AKTUALITAS.ID – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membantah keras laporan yang menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump membatasi atau mengarahkan operasi militer Israel di Lebanon. Netanyahu menyebut kabar tersebut sebagai “mitos” dan “berita palsu”, sekaligus menegaskan bahwa seluruh keputusan militer Israel diambil berdasarkan pertimbangan pemerintah dan militer Israel sendiri.

Dalam rapat mingguan kabinet, Netanyahu menepis isu bahwa Trump pernah meminta Israel tidak menyerang dugaan jaringan terowongan milisi Hizbullah di wilayah Lebanon selatan.

“Saya mendengar ada pemberitaan di media bahwa Presiden Trump meminta agar kami tidak bertindak terhadap terowongan-terowongan teror di Lebanon. Itu hanya mitos, berita palsu. Dia tidak pernah mengatakan hal itu kepada saya, dan saya juga tidak memintanya. Kami bertindak berdasarkan pertimbangan kami sendiri,” ujar Netanyahu.

BACA JUGA  Netanyahu Pecat Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant

Pernyataan tersebut muncul setelah media penyiaran publik Israel, KAN, melaporkan bahwa pemerintah Israel sempat menyampaikan informasi intelijen secara rinci kepada pejabat Amerika Serikat mengenai dugaan terowongan Hizbullah di kawasan Perbukitan Ali Al Taher, Lebanon selatan. Laporan itu menyebut langkah tersebut dilakukan dalam upaya memperoleh dukungan atau persetujuan Washington sebelum operasi militer dijalankan.

Perbedaan antara bantahan Netanyahu dan laporan media tersebut memunculkan kembali spekulasi mengenai sejauh mana koordinasi strategis antara Israel dan Amerika Serikat dalam operasi militer di kawasan.

Di tengah polemik tersebut, konflik di Lebanon terus menimbulkan dampak kemanusiaan yang besar. Menurut otoritas Lebanon, sejak 2 Maret 2026 sedikitnya 4.303 orang dilaporkan tewas, 12.202 lainnya mengalami luka-luka, dan lebih dari satu juta penduduk terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka akibat operasi militer Israel.

BACA JUGA  Netanyahu Tegaskan Israel Bertahan di Libanon Selatan

Sementara itu, pada 26 Juni lalu Israel dan Lebanon menandatangani kesepakatan kerangka yang dimediasi Amerika Serikat sebagai bagian dari upaya mengakhiri pendudukan Israel di wilayah Lebanon.

Netanyahu juga menegaskan sikap pemerintahnya terkait Jalur Gaza. Ia menyatakan bahwa rekonstruksi wilayah tersebut tidak akan dilakukan sebelum Hamas dilucuti dan Gaza didemiliterisasi.

Pernyataan itu dinilai berbeda dengan tahapan dalam rencana yang dikaitkan dengan Presiden Donald Trump, yang disebut mengusulkan agar proses rekonstruksi berjalan bersamaan dengan penarikan sebagian pasukan Israel dan dimulainya pelucutan senjata kelompok-kelompok bersenjata Palestina.

Menurut laporan harian Yedioth Ahronoth, pernyataan Netanyahu muncul di tengah pemberitaan mengenai rencana sebuah badan yang disebut Board of Peace bentukan Trump untuk melanjutkan rekonstruksi di wilayah yang berada di bawah kendali militer Israel tanpa menjadikannya bergantung pada pelucutan senjata Hamas.

BACA JUGA  Netanyahu Umumkan Serangan Baru di Gaza dan Selesai dalam Waktu Singkat

Konflik di Jalur Gaza sendiri terus menjadi sorotan internasional. Menurut data yang dikutip dalam naskah sumber, sejak Oktober 2023 lebih dari 73.000 orang dilaporkan tewas dan lebih dari 173.000 lainnya mengalami luka-luka akibat operasi militer Israel. Sebagian besar infrastruktur sipil di Gaza juga dilaporkan mengalami kerusakan berat.

Perbedaan narasi antara pemerintah Israel, laporan media domestik, dan berbagai inisiatif diplomatik menunjukkan bahwa dinamika hubungan Washington-Tel Aviv tetap menjadi faktor penting dalam perkembangan konflik di Timur Tengah. (Mun)

TRENDING