Connect with us

DUNIA

Iran Klaim Hancurkan Target Militer AS di Kuwait

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: Ist

AKTUALITAS.ID – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Kementerian Listrik, Air, dan Energi Terbarukan Kuwait menyatakan bahwa sebuah pembangkit listrik beserta fasilitas desalinasi air menjadi sasaran serangan yang dikaitkan dengan Iran. Insiden tersebut memicu kebakaran dan mendorong pemerintah Kuwait mengaktifkan langkah-langkah tanggap darurat.

Dalam pernyataan yang dikutip kantor berita pemerintah KUNA, kementerian menyebut serangan terbaru ini merupakan serangan kedua terhadap infrastruktur kelistrikan Kuwait dalam beberapa hari terakhir. Menurut pemerintah Kuwait, serangan tersebut berdampak pada sejumlah unit pembangkit listrik, sementara tim teknis dan aparat terkait dikerahkan untuk membatasi dampaknya.

Beberapa hari sebelumnya, pada Sabtu (18/7/2026), Kuwait juga melaporkan insiden serupa yang disebut menyasar fasilitas strategis negara itu.

BACA JUGA  Harga Minyak Dunia Jeblok ke Titik Terendah

Di sisi lain, militer Iran mengumumkan telah melaksanakan operasi drone berskala besar yang menurut mereka menargetkan dua instalasi militer Amerika Serikat di Kuwait. Melalui media pemerintah IRIB, Iran mengklaim telah menyerang gudang amunisi di Camp Al Adiri, serta sistem pertahanan rudal Patriot dan instalasi radar di Pangkalan Udara Ali Al Salem.

Hingga saat ini, klaim Iran mengenai keberhasilan serangan terhadap target militer AS belum dapat diverifikasi secara independen, sementara rincian mengenai dampak operasional terhadap fasilitas militer tersebut belum diumumkan oleh pihak Amerika Serikat.

Rangkaian peristiwa ini terjadi setelah meningkatnya konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran. Sebelumnya, Washington melancarkan serangan terhadap target di Iran, yang kemudian direspons Teheran dengan operasi terhadap sejumlah lokasi yang diklaim berkaitan dengan militer AS di kawasan.

BACA JUGA  Trump Klaim Mojtaba Khamenei 90% Tewas

Eskalasi terbaru juga menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas nota kesepahaman yang dimediasi Pakistan pada Juni lalu. Kesepakatan tersebut sebelumnya dimaksudkan untuk meredakan konflik dan membuka jalan menuju proses perdamaian yang lebih berkelanjutan. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa situasi keamanan di kawasan masih sangat rapuh dan berpotensi memicu ketegangan yang lebih luas apabila aksi saling serang terus berlanjut. (Mun)

TRENDING