Connect with us

DUNIA

AS Tolak Visa Abbas, Peringatan ‘Nakba Kedua’ Menggema Ngeri di Sidang PBB

Aktualitas.id -

AKTUALITAS.ID – Presiden Palestina Mahmoud Abbas membunyikan alarm bahaya tertinggi di hadapan Sidang Majelis Umum PBB, Kamis (29/9/2026). Melalui pidato virtual lantaran pengajuan visanya ditolak oleh Amerika Serikat, Abbas menegaskan bahwa eskalasi konflik saat ini telah jauh melampaui isu perusakan solusi dua negara dan secara langsung mengancam eksistensi bangsa Palestina.

Di hadapan komunitas internasional, Abbas menyoroti krisis mematikan yang tidak lagi sekadar menghalangi kemerdekaan wilayah, tetapi berpotensi menyapu bersih kelangsungan hidup rakyatnya di tanah air mereka sendiri.

“Kami sudah lama memperingatkan ke komunitas internasional melalui Sidang Majelis Umum dan Dewan Keamanan bahwa kebijakan Israel melanggar hukum internasional dan akan menghancurkan solusi dua negara. Namun, situasi ini kini mengancam kelangsungan hidup dan eksistensi bangsa Palestina,” tegas Abbas.

BACA JUGA  AS Lagi-lagi Tolak Visa Presiden Palestina

Ia menyoroti penderitaan terpusat di Jalur Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur, menyatakannya sebagai sebuah skema “kolonial jahat” yang dirancang untuk menekan kehidupan warga sipil Palestina. Dalam pidatonya, Abbas secara blak-blakan mendesak dunia internasional untuk segera campur tangan guna mencegah pengulangan sejarah kelam.

“Kami memperingatkan Anda hari ini: jangan biarkan Nakba lain terjadi. Jangan biarkan pembantaian massal seperti yang terjadi pada 1948 terulang kembali,” ungkap Abbas.

Tragedi Nakba merupakan peristiwa pengusiran massal dan pembersihan etnis warga Palestina selama perang 1948 yang berbarengan dengan berdirinya Israel. Wanti-wanti akan ancaman Next Nakba ini kian menguat seiring agresi militer yang tak kunjung usai sejak Oktober 2023.

BACA JUGA  Usia Kematian Aktivis, Warga Palestina Demontrasi Menentang Presiden Mahmoud Abbas

Berdasarkan paparan data terkini terkait konflik tersebut, operasi militer telah mengakibatkan lebih dari 75.000 warga di Palestina tewas, meratakan ratusan ribu rumah dan fasilitas sipil, serta memaksa jutaan orang terdampar dalam krisis pengungsian. (Mun)

TRENDING