Berita
Usai Bidan Sebut Putin ‘Pembunuh’, Rusia Tarik Dubes di AS Pulang
Rusia menarik pulang duta besarnya di Washington D.C setelah Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyebut Presiden Vladimir Putin sebagai pembunuh. “Duta Besar Rusia di Washington, Anatoly Antonov, telah diminta pulang ke Moskow untuk konsultasi dan menganalisis apa yang harus dilakukan dan ke mana harus pergi dalam konteks hubungan dengan AS,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri […]
Rusia menarik pulang duta besarnya di Washington D.C setelah Presiden Amerika Serikat Joe Biden menyebut Presiden Vladimir Putin sebagai pembunuh.
“Duta Besar Rusia di Washington, Anatoly Antonov, telah diminta pulang ke Moskow untuk konsultasi dan menganalisis apa yang harus dilakukan dan ke mana harus pergi dalam konteks hubungan dengan AS,” bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia pada Kamis (18/3).
Wakil Menlu Rusia, Sergei Ryabkov, mengatakan Biden harus “bertanggung jawab” atas relasi AS-Rusia yang merenggang.
Dikutip AFP, relasi Kremlin dan Gedung Putih kembali memanas setelah laporan intelijen AS menyebut Rusia mencoba campur tangan dalam pilpres 2020 dan merugikan pencalonan Biden.
Lihat juga: Laporan Intelejen, Rusia Berusaha ‘Rusak’ Pilpres AS
Dalam sebuah wawancara dengan ABC News, Biden menegaskan bahwa Putin akan membayar konsekuensi atas campur tangan Rusia tersebut.
“Dia akan membayar harganya,” kata presiden berusia 78 tahun itu.
Selain masalah pemilu AS, Putin juga tengah berada dalam tekanan terkait pemenjaraan aktivis Alexei Navalny.
Navalny merupakan kritikus vokal Putin yang ditahan setibanya di Moskow pada Januari lalu setelah melakukan perawatan dan pemulihan di Jerman usai diduga diracun dengan zat saraf Novichok.
Banyak pihak menduga Navalny diracun oleh agen Rusia akibat kritiknya selama ini terhadap pemerintahan Putin.
Dalam wawancara itu, Biden ditanyai apakah menurutnya Putin adalah pembunuh. Ia pun menjawab “Ya, (saya menganggapnya pembunuh).”
Setelah diduga mencampuri pilpres AS 2016, intelijen AS pada Selasa (16/3) menduga Rusia kembali berusaha ikut campur dalam pemilu presiden 2020.
Campur tangan dilakukan Rusia dengan melakukan operasi untuk merendahkan pencalonan Presiden Biden dan Partai Demokrat, mendukung mantan Presiden Trump, merusak kepercayaan publik dalam proses pemilu, dan memperburuk perpecahan sosial politik di AS.
Selain Rusia, laporan juga mengungkap ada beberapa musuh asing yang berusaha ikut mengintervensi pemilu AS.
“Namun, tidak ada indikasi bahwa aktor asing itu berusaha mengubah aspek teknis apa pun dari proses pemungutan suara pada pemilu AS 2020, termasuk pendaftaran pemilih, pemberian suara, pemungutan suara, tabulasi, atau hasil pelaporan, ” bunyi kutipan laporan itu.
Sejauh ini, belum ada indikasi AS akan menarik duta besarnya dari Moskow. Seorang juru bicara Kemlu AS mengatakan perwakilan AS akan tetap di Moskow dengan harapan mempertahankan “saluran komunikasi terbuka” dan untuk “mengurangi risiko salah perhitungan antara kedua negara.”
-
POLITIK28/07/2026 13:00 WIBBawaslu Catat 409 Tim Mahasiswa Siap Bongkar Masalah Pemilu
-
EKBIS28/07/2026 11:30 WIBEmas Antam Jeblok Rp9.000 per Gram
-
POLITIK28/07/2026 11:00 WIBEmpat Keputusan PKS Bikin Peta Politik Memanas
-
DUNIA28/07/2026 12:00 WIBTrump Ancam Hantam Iran Lagi
-
RAGAM28/07/2026 16:30 WIBNama Bung Hatta Diabadikan untuk Spesies Baru Jadi Begonia hattae
-
JABODETABEK28/07/2026 12:30 WIBTragis! Rebutan Sate Taichan Berujung Tewasnya Prajurit TNI
-
RIAU29/07/2026 00:01 WIBPolisi Tahan Tengku Fauzi dalam Dugaan Kasus Korupsi Anggaran Satpol PP
-
OLAHRAGA28/07/2026 17:00 WIBTimnas Indonesia Menang 5-1, Herdman Tetap Tetap akan Evaluasi Pemain

















