DUNIA
Akibat Panas 41 Derajat, Prancis Matikan Reaktor Nuklir
AKTUALITAS.ID – Gelombang panas ekstrem yang melanda Prancis kini tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga mulai menghantam sektor energi. Suhu yang diperkirakan mencapai 41 derajat Celsius memaksa operator listrik nasional mengambil langkah luar biasa dengan menghentikan operasional sejumlah reaktor nuklir dan memangkas produksi listrik di beberapa fasilitas lainnya.
Perusahaan energi milik negara EDF mengumumkan tiga reaktor nuklir dihentikan sementara, sementara delapan reaktor lainnya dioperasikan dengan kapasitas yang dikurangi. Keputusan tersebut diambil untuk memenuhi ketentuan perlindungan lingkungan di tengah meningkatnya suhu air sungai yang digunakan sebagai sistem pendingin pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Reaktor yang terdampak berada di PLTN Golfech, Bugey, dan Chooz, yang masing-masing memanfaatkan aliran Sungai Garonne, Rhone, dan Meuse sebagai sumber pendingin.
Dalam keterangannya, EDF menyatakan penghentian operasi dilakukan karena kondisi cuaca ekstrem dan kewajiban mematuhi batas suhu pembuangan air pendingin ke sungai agar tidak merusak ekosistem.
Saat suhu udara melonjak, temperatur air sungai juga ikut meningkat. Kondisi tersebut membuat air yang telah digunakan untuk mendinginkan reaktor tidak boleh langsung dialirkan kembali apabila melampaui ambang batas yang telah ditetapkan regulator lingkungan.
Untuk menjaga stabilitas pasokan listrik nasional, Kementerian Ekonomi Prancis bahkan telah mengeluarkan dispensasi sementara terkait batas suhu air di sekitar Sungai Rhone dekat PLTN Bugey. Kebijakan darurat tersebut berlaku hingga 20 Juli, namun tetap tidak mampu menghindarkan penghentian sebagian operasi pembangkit.
Ini menjadi kedua kalinya dalam beberapa pekan terakhir EDF harus menghentikan operasional reaktor akibat gelombang panas. Sebelumnya, cuaca ekstrem juga memaksa perusahaan mengambil langkah serupa setelah Prancis mencatat rekor suhu tinggi pada bulan Juni.
Gelombang panas yang berlangsung sejak Mei 2026 kini telah menempatkan lebih dari sepertiga wilayah Prancis dalam status peringatan panas tertinggi. Berdasarkan perhitungan AFP, lebih dari 25 juta penduduk menghadapi suhu yang diperkirakan mencapai 41 derajat Celsius.
Dampaknya meluas ke berbagai sektor. Sejumlah objek wisata menutup operasional lebih awal, berbagai acara publik dibatalkan, dan beberapa rute Tour de France harus diubah demi keselamatan para pembalap.
Di sisi lain, kebakaran hutan dilaporkan semakin meluas di sejumlah wilayah. Otoritas juga mencatat peningkatan kasus tenggelam karena banyak warga mencari tempat rekreasi air untuk menghindari suhu yang menyengat.
Para ilmuwan menilai meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas di Eropa merupakan salah satu dampak perubahan iklim. Peristiwa di Prancis kali ini juga menunjukkan bagaimana cuaca ekstrem tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi mulai menguji ketahanan infrastruktur energi dan sistem kelistrikan di salah satu negara dengan pembangkit nuklir terbesar di dunia. (Mun)
-
OLAHRAGA12/07/2026 20:30 WIBPrediksi Argentina vs Inggris: Duel Messi dan Bellingham Menuju Final Piala Dunia 2026
-
NASIONAL12/07/2026 22:00 WIBFebrie Adriansyah Berpeluang Ajukan Praperadilan
-
OASE13/07/2026 05:00 WIBAl-Qur’an Sebut Orang yang Mengingkari Kitab Allah Tersesat
-
NASIONAL12/07/2026 23:00 WIBRieke Minta Prabowo Bentuk Tim Evaluasi Nasional Asset Recovery untuk Kasus ASABRI
-
NASIONAL12/07/2026 21:00 WIBPDIP dan PAN Kompak Minta Febrie Adriansyah Dihukum Mati
-
NUSANTARA12/07/2026 21:30 WIBHerman Deru Apresiasi Sumsel Bhayangkara Run 2026, Perkuat Kedekatan Polri dan Masyarakat
-
NASIONAL13/07/2026 09:00 WIBPresiden Prabowo Suruh Warga yang Anggap Indonesia Suram untuk Pindah Negara
-
POLITIK13/07/2026 10:00 WIBGolkar: DIM RUU Pemilu Belum Ada

















