Connect with us

EKBIS

Dolar Menguat, Rupiah Tersungkur ke Rp17.400

Aktualitas.id -

Ilustrasi, Dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin tertekan pada perdagangan Selasa (5/5/2026). Mata uang Garuda bahkan menembus level psikologis penting di atas Rp17.400 per dolar AS.

Berdasarkan data Refinitiv, pada pukul 09.07 WIB rupiah tercatat melemah 0,22% ke level Rp17.403/US$, lebih dalam dibandingkan posisi pembukaan di Rp17.380/US$.

Pelemahan ini menandai posisi terlemah intraday terbaru rupiah sepanjang perdagangan, sekaligus menembus batas psikologis Rp17.400 per dolar AS.

Data Bloomberg pada pukul 09.10 WIB juga menunjukkan rupiah berada di kisaran Rp17.405 per dolar AS, melemah sekitar 11,5 poin (0,07%) dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.394 per dolar AS.

Sementara itu, data Yahoo Finance mencatat rupiah berada di level Rp17.363 per dolar AS, masih dalam tren melemah dibandingkan pembukaan perdagangan sebelumnya.

Mengacu data RTI Infokom hingga pukul 09.15 WIB, rupiah tercatat terkoreksi 0,09% ke level Rp17.400 per dolar AS, dengan rentang pergerakan harian di kisaran Rp17.385 hingga Rp17.401.

Tidak hanya rupiah, sejumlah mata uang Asia juga mengalami tekanan terhadap dolar AS. Won Korea Selatan tercatat melemah paling dalam sebesar 0,25%, diikuti baht Thailand yang turun hingga 0,46%.

Selain itu, yuan China melemah 0,06%, dolar Singapura turun 0,05%, dan dolar Hong Kong terkoreksi 0,03%. Sementara itu, dolar Taiwan menjadi salah satu mata uang yang mampu menguat tipis sebesar 0,11%.

Di kawasan Asia, hingga pukul 09.00 WIB, peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah turun 0,21%, disusul ringgit Malaysia yang terkoreksi 0,18%.

Sebaliknya, won Korea Selatan sempat mencatat penguatan tertinggi sebesar 0,2%, diikuti yen Jepang dan dolar Singapura yang masing-masing menguat tipis 0,02%.

Pelemahan rupiah ini mencerminkan tekanan eksternal yang masih kuat terhadap mata uang negara berkembang, terutama di tengah penguatan dolar AS di pasar global. (Firman/Mun)

TRENDING