Connect with us

EKBIS

Harga Minyak Dunia Naik Lagi

Aktualitas.id -

Ilustrasi,Foto: Meta Ai

AKTUALITAS.ID – Pasar energi dunia kembali berguncang. Harga minyak mentah melonjak pada perdagangan Senin (29/6/2026) setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat aksi saling serang yang memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan minyak global dari kawasan Timur Tengah.

Kenaikan harga terjadi ketika harapan pasar terhadap perdamaian kembali memudar. Ketegangan terbaru membuat pelaku pasar kembali memburu aset energi karena khawatir distribusi minyak melalui Selat Hormuz kembali terganggu.

Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik sekitar 0,7 persen ke kisaran US$69,72 per barel, sementara Brent menguat hingga US$72,25-US$72,57 per barel pada awal perdagangan Asia.

Lonjakan tersebut muncul setelah Washington melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Iran sebagai respons atas serangan terbaru Teheran terhadap kapal-kapal dagang di sekitar Selat Hormuz.

Jalur laut strategis tersebut menjadi urat nadi perdagangan energi dunia karena sekitar 20 persen pasokan minyak global dikirim melalui kawasan itu. Sedikit saja gangguan keamanan langsung memicu kepanikan pasar internasional.

Situasi semakin rumit setelah laporan menyebut pembicaraan damai antara AS dan Iran untuk sementara tertunda menyusul aksi militer terbaru. Meski demikian, pemerintah Amerika Serikat membantah proses diplomasi berhenti total dan menegaskan komunikasi masih terus berlangsung.

Seorang pejabat senior pemerintahan Presiden Donald Trump mengatakan pembahasan teknis mengenai implementasi nota kesepahaman tetap berjalan sesuai agenda.

Di sisi lain, para analis mengingatkan pasar kemungkinan terlalu cepat berasumsi pasokan minyak akan segera pulih.

Tim analis ING menilai masih terdapat risiko besar terhadap stabilitas pasar minyak apabila pemulihan distribusi melalui Selat Hormuz berlangsung lebih lambat dari perkiraan.

“Pasar tampak mulai merasa terlalu percaya diri terhadap pemulihan pasokan. Jika kenyataannya lebih lambat, maka risiko kenaikan harga minyak masih sangat besar,” tulis ING dalam risetnya.

Analis ANZ juga memperingatkan investor kemungkinan harus kembali menghitung ulang risiko pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia apabila konflik kembali meningkat.

Meski sepanjang pekan lalu harga Brent sempat jatuh lebih dari 10 persen karena distribusi minyak mulai pulih, situasi berubah drastis setelah kembali terjadi serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz.

Ketegangan terbaru bahkan disebut menjadi eskalasi paling serius sejak kedua negara menandatangani kesepahaman damai sementara beberapa waktu lalu.

Pasar kini menunggu kelanjutan perundingan antara Washington dan Teheran yang dijadwalkan berlangsung di Qatar dalam beberapa hari ke depan.

Namun selama konflik masih membayangi kawasan Teluk, volatilitas harga minyak diperkirakan tetap tinggi. Investor global kini kembali menempatkan risiko geopolitik sebagai faktor utama yang menentukan arah pasar energi dunia.

Apabila gangguan pelayaran di Selat Hormuz terus berlanjut, bukan hanya harga minyak yang terancam melonjak, tetapi juga biaya logistik global, inflasi, hingga harga bahan bakar di berbagai negara berpotensi ikut terdampak. (Firman/Mun)

Continue Reading

TRENDING