Connect with us

NASIONAL

Pengamat SDI: Iklim Investasi Harus Diperbaiki Jika Ingin Rupiah Kuat

Aktualitas.id -

Pengamat Komunikasi Politik dari Swarna Dwipa Institute, Frans Immanuel Saragih, foto: Ist

AKTUALITAS.ID – Gejolak ekonomi global yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik dalam beberapa bulan terakhir dinilai turut memberikan tekanan terhadap perekonomian Indonesia. Namun, kondisi yang terjadi saat ini disebut bukan semata-mata akibat faktor eksternal, melainkan akumulasi persoalan yang telah berlangsung dalam jangka panjang.

Pengamat Komunikasi Politik dari Swarna Dwipa Institute, Frans Immanuel Saragih, menilai pelemahan nilai tukar rupiah dan berkurangnya kepercayaan pasar tidak terjadi secara instan, melainkan merupakan hasil dari proses panjang yang membutuhkan pembenahan serius.

Menurut Frans Immanuel Saragih, kondisi ekonomi yang dihadapi Indonesia saat ini harus dilihat secara menyeluruh dan tidak hanya dikaitkan dengan gejolak global yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Ia menilai, kepercayaan pasar merupakan faktor utama yang menentukan kuat atau lemahnya fondasi ekonomi sebuah negara. Ketika investor melihat adanya kepastian hukum, stabilitas kebijakan, serta iklim usaha yang sehat, maka arus investasi akan terus masuk dan menopang pertumbuhan ekonomi.

Sebaliknya, apabila kepercayaan tersebut menurun, investor cenderung menahan ekspansi bahkan memindahkan modal ke negara lain yang dianggap lebih menjanjikan.

“Ini bukan persoalan yang terjadi secara instan. Semua merupakan proses panjang yang harus segera dibenahi,” ujar Frans saat dikonfirmasi, Rabu (10/6/2026).

Menurutnya, salah satu indikator yang paling terlihat dari menurunnya kepercayaan pasar adalah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan semakin ketatnya lapangan pekerjaan.

Frans menyoroti bahwa investor tidak hanya mempertimbangkan keuntungan bisnis semata, tetapi juga mencermati bagaimana pemerintah membangun komunikasi ekonomi, memberikan kepastian hukum, dan menegakkan aturan secara konsisten tanpa tebang pilih.

Ia menilai berbagai kasus korupsi yang mencuat ke publik berpotensi memberikan sinyal negatif kepada pelaku usaha dan investor internasional.

Ketika praktik korupsi masih menjadi sorotan, kata dia, pasar dapat menangkap pesan bahwa iklim investasi belum sepenuhnya kondusif. Kondisi tersebut pada akhirnya memengaruhi keputusan investor untuk menanamkan modal dalam jangka panjang.

Frans juga menilai komunikasi para pemangku kebijakan memiliki peran penting dalam membangun optimisme pasar. Menurutnya, pemerintah perlu mampu meyakinkan investor bahwa Indonesia tetap menjadi tujuan investasi yang aman, stabil, dan menguntungkan.

Ia mencontohkan bahwa berbagai program strategis pemerintah yang memiliki tujuan baik akan menghadapi tantangan besar apabila dalam implementasinya muncul dugaan penyimpangan atau kasus korupsi yang mencederai kepercayaan publik.

Akibatnya, sentimen pasar dapat memburuk dan berdampak pada berbagai sektor, mulai dari investasi, penciptaan lapangan kerja, hingga stabilitas nilai tukar rupiah.

Meski demikian, Frans menegaskan Indonesia masih memiliki peluang besar untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan menarik kembali kepercayaan investor.

Menurutnya, langkah yang perlu diprioritaskan adalah memperkuat kedaulatan ekonomi, memberikan kepastian hukum yang konsisten, memperbaiki kualitas komunikasi publik pemerintah, serta menciptakan iklim investasi yang lebih kompetitif.

“Masih ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan. Yang terpenting adalah bagaimana negara ini mampu memberikan kepastian hukum, menjaga kepercayaan pasar, dan menawarkan iklim investasi yang sehat serta menguntungkan,” ujarnya.

Ia berharap pembenahan tersebut dapat segera dilakukan agar Indonesia mampu menghadapi tekanan ekonomi global dan kembali meningkatkan daya saingnya di mata investor internasional. (Mun)

TRENDING