Connect with us

NUSANTARA

BMKG Buka Suara Soal Cuaca Panas Ekstrem di Jawa

Aktualitas.id -

Ilustrasi, dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Cuaca panas dan terik yang belakangan menyelimuti berbagai wilayah di Pulau Jawa memicu perbincangan luas di media sosial. Banyak warganet mengaitkan kondisi tersebut dengan posisi Matahari yang disebut-sebut berada tepat di atas Pulau Jawa. Namun, benarkah fenomena itu menjadi satu-satunya penyebab suhu terasa begitu menyengat?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa saat ini memang sedang terjadi fenomena Kulminasi Utama atau yang dikenal sebagai Hari Tanpa Bayangan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Pulau Jawa.

Fenomena ini terjadi ketika Matahari berada tepat di posisi tertinggi di langit atau berada di titik zenit saat tengah hari. Dalam kondisi tersebut, bayangan benda tampak menghilang karena posisi Matahari berada hampir tepat di atas kepala.

BACA JUGA  Siap-siap Langit Berawan: BMKG Rilis Prakiraan Cuaca Jabodetabek Rabu 7 Mei 2025

Menurut BMKG, fenomena ini merupakan dampak dari gerak semu Matahari yang terjadi sepanjang tahun akibat kemiringan sumbu Bumi terhadap bidang revolusinya. Akibatnya, posisi Matahari terlihat bergeser dari 23,5 derajat Lintang Utara hingga 23,5 derajat Lintang Selatan.

Di Pulau Jawa, fenomena Kulminasi Utama berlangsung pada pertengahan Oktober. BMKG mencatat Jakarta dan Serang mengalami fenomena ini pada 9 Oktober, Bandung dan Semarang pada 11 Oktober, Surabaya pada 12 Oktober, serta Yogyakarta pada 13 Oktober.

Meski demikian, BMKG menegaskan panas yang dirasakan masyarakat tidak semata-mata disebabkan oleh posisi Matahari yang berada tepat di atas kepala. Faktor lain yang berperan besar adalah kondisi musim kemarau yang masih berlangsung di sebagian besar wilayah Jawa.

Minimnya tutupan awan membuat sinar Matahari mencapai permukaan Bumi tanpa banyak hambatan. Akibatnya, radiasi yang diterima permukaan menjadi lebih besar dan suhu udara terasa lebih panas dibandingkan kondisi normal.

BACA JUGA  Cuaca Jakarta Rabu, 31 Januari 2025: Cerah Berawan, Waspadai Hujan Ringan Malam Hari

Selain itu, musim kemarau tahun ini diprakirakan berlangsung lebih panjang dari biasanya. Kondisi tersebut menyebabkan teriknya cuaca masih bertahan hingga pertengahan Oktober meskipun secara klimatologis puncak musim kemarau telah berlalu sejak Agustus lalu.

Kondisi langit cerah hampir sepanjang hari juga memperkuat efek panas yang dirasakan masyarakat. Tak heran jika dalam beberapa pekan terakhir banyak warga mengeluhkan suhu udara yang terasa lebih menyengat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

BMKG memperkirakan musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia datang lebih lambat dari rata-rata normal. Sejumlah wilayah baru diprediksi mulai memasuki musim hujan secara bertahap pada November hingga Desember mendatang.

Wilayah Jawa diperkirakan baru akan merasakan perluasan musim hujan secara lebih merata pada Desember. Keterlambatan ini salah satunya dipengaruhi oleh kondisi iklim global yang masih dipengaruhi fenomena El Nino kuat.

BACA JUGA  BMKG Prediksi Puncak Musim Hujan Terjadi November 2024 hingga Februari 2025

Dengan demikian, cuaca panas yang kini dirasakan masyarakat Jawa bukan hanya akibat fenomena Matahari tepat berada di atas kepala. Kombinasi Kulminasi Utama, minimnya tutupan awan, musim kemarau yang lebih panjang, serta keterlambatan musim hujan menjadi faktor utama yang membuat suhu terasa lebih terik dan menyengat sepanjang Oktober ini.

Bagi masyarakat, kondisi tersebut menjadi pengingat untuk menjaga kesehatan, mengurangi aktivitas di bawah terik Matahari dalam waktu lama, serta memastikan tubuh tetap terhidrasi di tengah cuaca yang masih panas ekstrem. (Kusuma/Mun)

TRENDING