RAGAM
Sinkhole Mengancam: BRIN Identifikasi Wilayah Rawan di Indonesia
AKTUALITAS.ID – Indonesia disebut sebagai salah satu negara yang paling rawan mengalami fenomena lubang runtuhan tanah atau sinkhole. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap, kawasan dengan bentang alam karst atau batu gamping memiliki potensi tinggi mengalami fenomena tersebut.
Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Adrin Tohari, menyebut setidaknya ada tiga wilayah di Indonesia yang masuk kategori rawan sinkhole, yakni Gunung Kidul (DI Yogyakarta), Pacitan (Jawa Timur), dan Maros (Sulawesi Selatan). Ketiga daerah ini memiliki lapisan batu gamping tebal di bawah permukaan tanah.
Menurut Adrin, sinkhole merupakan fenomena alam yang terjadi akibat runtuhnya lapisan batu gamping yang mengalami pelarutan secara perlahan dalam jangka waktu panjang.
“Prosesnya berlangsung lama dan dipicu oleh air hujan yang bersifat asam karena menyerap karbon dioksida (CO₂) dari udara dan permukaan tanah,” ujar Adrin, dikutip dari laman resmi BRIN, Rabu (21/1/2026).
Air hujan tersebut kemudian meresap ke dalam tanah dan melarutkan batuan yang mudah larut, khususnya batu gamping. Proses ini membentuk rekahan serta rongga di bawah permukaan tanah yang terus membesar seiring waktu.
Air permukaan dan air tanah akan mengalir ke dalam rekahan tersebut. Akibatnya, rongga semakin melebar dan lapisan penyangga di bagian atas menjadi rapuh.
“Ketika hujan turun, lapisan penutup rongga makin menipis. Pada titik tertentu, lapisan ini tidak lagi mampu menahan beban di atasnya, lalu runtuh secara tiba-tiba dan membentuk lubang di permukaan tanah atau sinkhole,” jelasnya.
Adrin mengakui, tanda awal kemunculan sinkhole sangat sulit dideteksi karena pembentukan rongga terjadi perlahan dan berada di bawah permukaan tanah. Meski demikian, identifikasi sebenarnya bisa dilakukan menggunakan berbagai metode geofisika.
“Pendekatannya bisa melalui metode gaya berat, georadar, dan geolistrik untuk memetakan sebaran, kedalaman, serta ukuran rongga bawah tanah,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kawasan permukiman yang berdiri di atas lapisan batu gamping memiliki risiko lebih tinggi terdampak sinkhole. Salah satu indikasi awal yang patut diwaspadai adalah hilangnya aliran air permukaan secara tiba-tiba.
“Jika aliran air mendadak menghilang, kemungkinan besar air masuk ke rongga bawah tanah. Kondisi ini perlu segera diinvestigasi karena berpotensi memicu runtuhan,” tegas Adrin.
Terkait air yang menggenang di dalam sinkhole, Adrin menegaskan bahwa air tersebut berasal dari air hujan dan air bawah permukaan. Namun, kelayakan air untuk dikonsumsi tidak bisa disimpulkan secara langsung.
“Air harus melalui analisis kimia terlebih dahulu, mencakup kejernihan, warna, bau, rasa, pH, kandungan bakteri berbahaya seperti E. coli, serta logam berat sesuai standar kesehatan dalam Peraturan Menteri Kesehatan,” pungkasnya. (Kusuma/Mun)
-
NASIONAL18/02/2026 06:00 WIBWaka MPR Sebut Imlek 2577 Bukti Demokrasi dan Toleransi Indonesia
-
OLAHRAGA18/02/2026 18:00 WIBLaga Persib vs Ratchaburi Dijaga 2.285 Personel Polisi
-
NASIONAL18/02/2026 19:00 WIB58 Persen Dana Desa Dialokasikan Pemerintah untuk Pembangunan KDMP
-
JABODETABEK18/02/2026 05:30 WIBPrakiraan Cuaca Jabodetabek Rabu 18 Februari 2026: Hujan Sedang hingga Ringan
-
FOTO18/02/2026 15:49 WIBFOTO: Eastspring Jalin Kemitraan Strategis dengan Bahana Sekuritas
-
POLITIK18/02/2026 10:00 WIBKritik Koalisi Permanen Golkar, Pengamat: Berisiko Tumpulkan Fungsi DPR dan Demokrasi
-
OASE18/02/2026 05:00 WIBSurah Al-Qari’ah: Dahsyatnya Hari Kiamat dan Timbangan Amal Manusia
-
OTOTEK18/02/2026 13:30 WIBLonjakan Transaksi Kripto dalam Jaringan Perdagangan Manusia

















