Connect with us

RAGAM

Pengamat SDI: Indonesia Tak Akan Maju Tanpa Pendidikan dan Kesehatan

Aktualitas.id -

Pengamat SDI Frans Immanuel Saragih,

AKTUALITAS.ID – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, muncul pertanyaan besar yang terus mengemuka: mengapa negara yang dikenal kaya akan sumber daya alam masih menghadapi kesenjangan kesejahteraan dan belum sepenuhnya mampu menghadirkan kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat?

Pengamat Komunikasi Politik Swarna Dwipa Institute (SDI), Frans Immanuel Saragih, menilai persoalan tersebut tidak terletak pada minimnya kekayaan alam, melainkan pada kualitas sumber daya manusia yang belum menjadi prioritas utama pembangunan nasional.

Dalam wawancara jarak jauh, Jumat (3/7/2026), Frans menegaskan bahwa pendidikan dan kesehatan merupakan fondasi utama yang menentukan keberhasilan Indonesia mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

“Sebagus apa pun sumber daya alam yang dimiliki, semuanya tidak akan memberikan manfaat maksimal jika kualitas sumber daya manusianya lemah. Karena itu, kesehatan dan pendidikan yang berkualitas serta merata harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.

BACA JUGA  Prabowo Bawa Pulang Rp575 Triliun, Pengamat: Sentil Kinerja Kabinet Realisasikan Investasi

Menurut Frans, pembangunan infrastruktur, pertumbuhan ekonomi, investasi, hingga reformasi birokrasi memang memiliki peran penting dalam mendorong kemajuan bangsa. Namun, seluruh kebijakan tersebut tidak akan menghasilkan lompatan pembangunan apabila masyarakat tidak didukung oleh layanan kesehatan yang baik dan akses pendidikan yang berkualitas.

Ia menekankan bahwa masyarakat yang sehat akan memiliki produktivitas lebih tinggi, sementara pendidikan yang merata akan melahirkan sumber daya manusia yang cerdas, inovatif, adaptif, dan mampu bersaing di tengah persaingan global yang semakin ketat.

Frans juga mengingatkan bahwa sejarah telah menunjukkan banyak negara dengan sumber daya alam terbatas justru mampu menjelma menjadi negara maju karena secara konsisten menjadikan pembangunan manusia sebagai investasi utama. Sebaliknya, tidak sedikit negara yang kaya sumber daya alam justru mengalami perlambatan pembangunan karena gagal meningkatkan kualitas sumber daya manusianya.

BACA JUGA  Pengamat: Kabinet Gagal Ikuti Kecepatan Prabowo

Pandangan tersebut, kata Frans, sejalan dengan Human Capital Theory yang dikembangkan Theodore Schultz dan Gary Becker, yang menempatkan pendidikan dan kesehatan sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar beban anggaran negara. Investasi pada manusia diyakini mampu meningkatkan produktivitas, mendorong inovasi, dan memperkuat pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

Ia juga mengutip teori pertumbuhan ekonomi Paul Romer, yang menegaskan bahwa pengetahuan, inovasi, dan pendidikan merupakan motor utama pertumbuhan ekonomi modern. Negara yang konsisten membangun kualitas manusianya akan memiliki kapasitas inovasi yang terus berkembang dan mampu menjaga daya saing dalam jangka panjang.

Di sisi lain, Frans mengingatkan Indonesia agar tidak terjebak dalam fenomena Resource Curse Theory atau kutukan sumber daya alam yang diperkenalkan oleh Richard Auty. Teori tersebut menjelaskan bahwa sejumlah negara yang kaya sumber daya alam justru tertinggal karena terlalu bergantung pada kekayaan alam dan mengabaikan pembangunan kualitas manusianya.

BACA JUGA  Meneladani Semangat Juang Kemerdekaan, Menjaga NKRI untuk Generasi Indonesia Emas

Menurutnya, pengalaman Venezuela maupun Nigeria menjadi pengingat bahwa kekayaan sumber daya alam tidak otomatis menghadirkan kesejahteraan apabila tidak dibarengi dengan investasi besar di bidang pendidikan dan kesehatan.

“Indonesia jangan sampai mengulangi kesalahan yang sama. Kekayaan alam hanya akan menjadi potensi yang sia-sia apabila masyarakatnya tidak dipersiapkan menjadi manusia yang sehat, cerdas, inovatif, produktif, dan mampu mengelola sumber dayanya sendiri,” ujarnya.

Menatap Indonesia Emas 2045, Frans menilai pemerintah harus menempatkan sektor pendidikan dan kesehatan sebagai agenda strategis nasional yang tidak dapat ditawar. Menurutnya, ukuran negara maju bukan hanya dilihat dari besarnya cadangan sumber daya alam, tingginya angka investasi, atau megahnya pembangunan infrastruktur, melainkan dari kualitas manusia yang sehat, berpendidikan, produktif, serta mampu menciptakan inovasi untuk membawa bangsa menjadi lebih maju dan berdaya saing. (Mun)

TRENDING