RAGAM
NASA: RI Masuk Zona Rawan Kenaikan Air Laut
AKTUALITAS.ID – Ancaman kenaikan permukaan air laut akibat perubahan iklim kembali menjadi sorotan dunia. Proyeksi terbaru yang dirujuk dari NASA menunjukkan permukaan laut global berpotensi naik sekitar 0,9 hingga 1,8 meter pada akhir abad ini, sebuah skenario yang dapat memperbesar risiko banjir pesisir dan mengancam jutaan penduduk di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Salah satu wilayah yang kembali menjadi perhatian adalah Jakarta. Mengutip laporan Sciencing, Sabtu (4/7/2026), ibu kota Indonesia masuk dalam kelompok kota besar dunia yang dinilai paling rentan terhadap kombinasi kenaikan muka air laut dan penurunan permukaan tanah.
Menurut proyeksi tersebut, ancaman terhadap kawasan pesisir dipicu oleh mencairnya lapisan es di kutub akibat pemanasan global. Kondisi ini diperkirakan akan meningkatkan frekuensi banjir pesisir dan memperluas wilayah yang terdampak apabila emisi gas rumah kaca tidak ditekan.
Laporan Sciencing menyebut Jakarta menghadapi tantangan ganda. Selain berada di dataran rendah yang dialiri 13 sungai menuju Laut Jawa, sebagian wilayahnya juga mengalami penurunan permukaan tanah yang memperbesar risiko banjir.
“Jakarta diketahui merupakan salah satu kota yang paling cepat mengalami penurunan permukaan tanah di dunia. Masalah ini menjadi salah satu faktor yang ikut dipertimbangkan dalam pemindahan ibu kota ke IKN,” tulis laporan tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, banjir di wilayah Jabodetabek juga masih berulang. Peristiwa banjir besar pada awal 2025 kembali menunjukkan tingginya kerentanan kawasan perkotaan terhadap cuaca ekstrem dan sistem drainase yang terbebani.
Sciencing juga mengulas keputusan pemerintah Indonesia memindahkan ibu kota ke Ibu Kota Nusantara (IKN), dengan menyebut tingginya risiko banjir, penurunan tanah, kemacetan, dan polusi sebagai bagian dari tantangan yang dihadapi Jakarta.
Namun, penting dicatat bahwa NASA tidak menyatakan akan terjadi “kiamat” ataupun bahwa Jakarta pasti tenggelam pada tanggal tertentu. Lembaga tersebut mempublikasikan proyeksi ilmiah mengenai kemungkinan kenaikan muka laut berdasarkan berbagai skenario perubahan iklim, sementara dampak di setiap wilayah bergantung pada faktor lokal seperti laju penurunan tanah, adaptasi infrastruktur, serta keberhasilan upaya mitigasi emisi global.
Selain Jakarta, laporan Sciencing juga memasukkan sejumlah kota besar lain yang dinilai menghadapi risiko serupa, di antaranya Alexandria (Mesir), Miami (Amerika Serikat), Lagos (Nigeria), Dhaka (Bangladesh), Yangon (Myanmar), Bangkok (Thailand), Kolkata (India), Manila (Filipina), serta kawasan metropolitan Guangdong–Hong Kong–Makau di China.
Para peneliti menekankan bahwa proyeksi tersebut merupakan peringatan agar pemerintah dan masyarakat mempercepat langkah adaptasi, mulai dari perlindungan kawasan pesisir, pengendalian pengambilan air tanah, hingga pengurangan emisi gas rumah kaca untuk menekan dampak perubahan iklim dalam jangka panjang. (Irawan/Mun)
-
NASIONAL05/07/2026 17:00 WIBPengakuan Raja Juli soal Amplop dari Bupati Kuansing, KPK: Pengembalian Tak Gugurkan Pidana
-
POLITIK06/07/2026 07:00 WIBBocor! Isu ‘Lantai Empat’ DPR Diduga Atur Serangan ke PDIP
-
NASIONAL05/07/2026 19:00 WIBKPK: Amplop Untuk Raja Juli Berasal dari SHU Petani Kuansing
-
EKBIS05/07/2026 22:00 WIBBulog Pastikan Serap Hasil Panen Petani Papua Selatan untuk Swasembada Pangan
-
OLAHRAGA05/07/2026 16:00 WIBMeksiko Hadapi Inggris di 16 Besar Piala Dunia 2026, Misi Akhiri Penantian 40 Tahun
-
OTOTEK05/07/2026 18:30 WIBJaguar Obral Mobil Baru Diskon hingga Puluhan Juta Rupiah, Ini Daftar Modelnya
-
NASIONAL05/07/2026 18:00 WIBRekam Jejak Irjen Wibowo Kakorlantas Polri Baru
-
NASIONAL05/07/2026 20:00 WIBRangkap Jabatan, ICW Laporkan Pimpinan BGN ke Ombudsman

















