Connect with us

EKBIS

Libur Panjang Bikin Rupiah Loyo di Pagi Hari

Aktualitas.id -

Ilustrasi rupiah loyo, dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali bergerak melemah pada perdagangan Selasa (26/5/2026) pagi jelang libur panjang. Mata uang Garuda terpantau masih berada di bawah tekanan setelah sebelumnya juga ditutup di zona merah.

Pada perdagangan pagi ini, rupiah tercatat melemah sekitar 5 poin atau 0,03 persen ke posisi Rp17.749 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.744 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB di pasar spot exchange, rupiah bahkan sempat dibuka lebih rendah di level Rp17.757 per dolar AS atau turun 13 poin setara 0,07 persen.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan posisi rupiah berada di kisaran Rp17.738 per dolar AS pada waktu yang hampir bersamaan.

Pelemahan rupiah hari ini melanjutkan tren negatif perdagangan sebelumnya. Pada Senin (25/5/2026), rupiah di pasar spot juga ditutup melemah 0,15 persen ke level Rp17.744 per dolar AS.

Di tengah tekanan terhadap rupiah, indeks dolar Amerika Serikat justru tercatat melemah 0,17 persen ke level 99.070. Meski demikian, tekanan terhadap mata uang emerging market termasuk rupiah masih belum sepenuhnya mereda.

Pergerakan mata uang di kawasan Asia pagi ini juga terlihat bervariasi. Yen Jepang melemah 0,03 persen, dolar Hongkong turun 0,01 persen, dan dolar Singapura terkoreksi 0,01 persen.

Sementara itu, won Korea Selatan menguat 0,23 persen dan rupee India naik cukup tajam sebesar 0,49 persen. Di sisi lain, ringgit Malaysia melemah 0,28 persen dan baht Thailand turun 0,29 persen terhadap dolar AS.

Untuk mata uang Eropa, pergerakan juga tercatat campuran. Euro menguat 0,09 persen dan Pound Sterling naik 0,11 persen. Sebaliknya, Franc Swiss melemah 0,09 persen dan Krona Swedia terkoreksi 0,32 persen.

Pelaku pasar kini masih mencermati arah kebijakan global dan sentimen eksternal yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan, terutama menjelang periode libur panjang yang biasanya membuat volatilitas pasar meningkat. (Firman/Mun)

TRENDING