Connect with us

EKBIS

Rupiah Ambrol ke Rp17.987 per Dolar

Aktualitas.id -

Ilustrasi rupiah ambrol, dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali membuka perdagangan di zona merah pada Rabu (8/7/2026). Setelah sempat menguat sehari sebelumnya, mata uang Garuda kembali kehilangan tenaga dan bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), mencerminkan tekanan yang masih membayangi pasar keuangan domestik.

Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka melemah 7 poin atau sekitar 0,04 persen ke level Rp17.987 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan Selasa (7/7/2026), rupiah berhasil ditutup menguat 15 poin ke posisi Rp17.980 per dolar AS.

Pergerakan rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang sama-sama berada di bawah tekanan dolar AS. Di awal perdagangan, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam, disusul peso Filipina, yen Jepang, baht Thailand, yuan China, dolar Singapura, dolar Taiwan, hingga dolar Hong Kong. Hanya won Korea Selatan yang mampu mencatatkan penguatan terhadap dolar AS.

BACA JUGA  BI Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Global Capai 3,2% pada 2024

Tekanan terhadap mata uang kawasan dipicu meningkatnya permintaan terhadap aset-aset aman (safe haven) setelah memanasnya kembali konflik geopolitik di Timur Tengah. Dolar AS menguat setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran, meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan dan potensi gangguan pasokan energi global.

Ketegangan tersebut ikut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan memperkuat posisi dolar AS di pasar internasional. Indeks dolar bahkan sempat menyentuh level 101,18, tertinggi sejak awal Juli 2026.

Di saat yang sama, mata uang utama dunia juga ikut melemah. Euro dan poundsterling terkoreksi terhadap dolar AS, sementara dolar Australia bergerak stabil. Dolar Selandia Baru justru menguat tipis menjelang keputusan suku bunga bank sentral negara tersebut.

BACA JUGA  Rupiah Melemah Pagi Ini, Investor Tunggu Peresmian Danantara

Pelaku pasar kini mencermati perkembangan konflik geopolitik, arah kebijakan moneter global, hingga pergerakan harga minyak yang berpotensi menjadi penentu arah rupiah dalam beberapa hari ke depan.

Apabila tekanan eksternal terus berlanjut dan permintaan terhadap dolar AS tetap tinggi, nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan berada di bawah tekanan. Investor juga menunggu respons pasar terhadap perkembangan terbaru di Timur Tengah yang dinilai menjadi salah satu sentimen utama perdagangan global saat ini. (Firman/Mun)

TRENDING