EKBIS
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.813 per USD
AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali membuka pekan di bawah tekanan. Mata uang Garuda melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global yang kembali mendorong penguatan mata uang Negeri Paman Sam.
Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 09.13 WIB, Senin (22/6/2026), rupiah berada di level Rp17.813 per dolar AS, melemah 9 poin atau 0,05 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp17.804 per dolar AS.
Sementara itu, data TradingView juga menunjukkan rupiah dibuka melemah tipis ke level yang sama, sejalan dengan masih kokohnya posisi Indeks Dolar AS (DXY) yang bertahan di kisaran 100,8.
Tekanan terhadap rupiah bukan terjadi sendirian. Mayoritas mata uang Asia juga kompak berada di zona merah akibat derasnya arus penguatan dolar AS.
Won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah terkoreksi 0,47 persen, disusul ringgit Malaysia yang turun 0,24 persen, peso Filipina melemah 0,21 persen, yen Jepang turun 0,16 persen, sementara yuan China, dolar Singapura, dolar Taiwan, hingga rupiah juga ikut terseret melemah.
Hanya baht Thailand yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan tipis 0,02 persen terhadap dolar AS.
Penguatan dolar AS kali ini dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap memanasnya kembali situasi di Timur Tengah. Ketidakpastian muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman melanjutkan operasi militer terhadap Iran, sementara pemerintah Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi distribusi minyak dunia.
Memanasnya tensi geopolitik tersebut membuat investor global kembali memburu aset-aset aman, termasuk dolar AS, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Tak hanya mata uang Asia, sejumlah mata uang utama dunia juga ikut tertekan. Euro, poundsterling Inggris, dolar Australia, dolar Kanada, hingga franc Swiss sama-sama melemah terhadap dolar AS pada perdagangan pagi ini.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi menjadi penentu arah pergerakan pasar keuangan global. Jika eskalasi terus meningkat, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa sesi perdagangan mendatang. (Firman/Mun)
-
DUNIA06/08/2026 21:00 WIBRudal Rusia Tewaskan Belasan Orang di Kyiv
-
NASIONAL07/08/2026 06:00 WIBAmnesty Desak MBG Dihentikan Usai Dugaan Keracunan Massal
-
NUSANTARA06/08/2026 22:00 WIBBocah 11 Tahun di Jambi Tewas Diterkam Buaya Ganas
-
EKBIS07/08/2026 10:30 WIBRupiah Jadi Pecundang di Asia Pagi Ini
-
RAGAM07/08/2026 01:05 WIBSJA Textile Hadirkan Strategic Fabric Partner, Bantu Brand Fashion dari Awal Produksi
-
PAPUA TENGAH07/08/2026 09:00 WIBPBB: Jangan Rampas Suara Rakyat Lewat Ambang Batas Parlemen
-
DUNIA07/08/2026 00:00 WIBPBB: ISIS Masih Tangguh di Tengah Operasi Kontraterorisme
-
NASIONAL07/08/2026 11:00 WIBDPR: QRIS Diduga Dimanfaatkan untuk Deposit Judi Online

















