Berita
Kisah Umar Memetik Hikmah dari Anak Gembala
Abdullah bin Dinar menceritakan, suatu hari dirinya menemani Khalifah Umar bin Khattab dalam perjalanan dari Madinah menuju Makkah. Belum sampai tujuan, keduanya lantas beristirahat di dekat padang rumput. Mereka lantas berpapasan dengan seorang anak gembala. Sang amirul mu`minin berkata, “Aku ingin menguji kejujuran gembala itu. Apakah ia amanah dalam pekerjaannya ataukah tidak.” Umar lantas berjalan […]
Abdullah bin Dinar menceritakan, suatu hari dirinya menemani Khalifah Umar bin Khattab dalam perjalanan dari Madinah menuju Makkah. Belum sampai tujuan, keduanya lantas beristirahat di dekat padang rumput.
Mereka lantas berpapasan dengan seorang anak gembala. Sang amirul mu`minin berkata, “Aku ingin menguji kejujuran gembala itu. Apakah ia amanah dalam pekerjaannya ataukah tidak.”
Umar lantas berjalan mendekati si anak gembala. Sementara, Ibnu Dinar mengikutinya.
“Wahai anak gembala,” kata Umar, “bagaimana kalau engkau menjual kepadaku seekor anak kambing dari ternak ini?”
“Aku bukan pemiliknya. Aku hanya seorang budak. Tuanku-lah yang mempunyai kambing-kambing ini,” jawab si gembala.
Umar berkata lagi, “Kalau begitu, bilang saja nanti kepada tuanmu, anak kambing itu berkurang satu karena dimakan serigala.”
Si bocah diam sejenak. Ia lama menatap wajah Amirul Mukminin, seperti keheranan. Ia lalu berkata, “Jika Anda menyuruh saya berbohong, fa ainallah (di mana Allah)?”
Maksudnya, anak ini mengingatkan pria dewasa yang ditemuinya itu, sesungguhnya Allah Mahamelihat.
“Mungkin tuanku tidak melihat, tetapi bagaimana dengan Allah?” tutur dia lagi.
Ibnu Dinar menceritakan, begitu mendengar perkataan itu sang khalifah pun tampak takjub.
Umar adalah seorang khalifah, pemimpin umat yang sangat berwibawa lagi ditakuti, dan tak pernah gentar menghadapi musuh. Akan tetapi, menghadapi anak gembala itu beliau gemetar, rasa takut menjalari seluruh tubuhnya, persendian-persendian tulangnya terasa lemah.
Lantas, Umar menangis karena memahami makna tauhid kalimat itu.
Kalimat yang mengingatkannya pada keagungan Allah, sekaligus tanggung jawabnya kelak di Hari Kiamat sebagai seorang pemimpin.
Umar kemudian menemui majikan si anak gembala itu. Akhirnya, sahabat Nabi SAW berjulukan al-Faruq itu membeli lalu membebaskan si bocah dari status budak.
“Dengan kalimat fa ainallah, telah kumerdekakan kamu dari perbudakan dan dengan kalimat itu pula insya Allah kamu akan merdeka di akhirat kelak.”
Demikianlah, sikap amanah anak kecil tadi membebaskannya dari belenggu perbudakan sekaligus memberi pelajaran hikmah bagi sang pemimpin!
-
NASIONAL27/07/2026 18:31 WIBTiga Kali Ganti Pimpinan BGN, Namun Tak Satupun yang Punya Latar Belakang Ahli Gizi
-
POLITIK27/07/2026 21:00 WIBNarasi Prabowo soal “Londo Ireng” Ciptakan Permusuhan dan Anti Demokrasi
-
OLAHRAGA27/07/2026 16:29 WIBPrediksi Indonesia vs Kamboja: John Herdman Incar Tiga Poin pada Laga Pembuka Grup A
-
EKBIS27/07/2026 17:31 WIBProfil Destry Damayanti: Dari Ekonom hingga Pejabat Gubernur Sementara BI
-
RIAU27/07/2026 20:00 WIBNapi Kasus Narkoba Kabur Saat Berobat di Pekanbaru, Tiga Petugas Diperiksa
-
FOTO27/07/2026 21:30 WIBFOTO: Megawati Resmikan Monumen Kudatuli
-
PAPUA TENGAH27/07/2026 18:00 WIBKorupsi Dana Hibah KPU Mimika Rp28 Miliar, Kapolda Papua Tengah Pastikan Tetap Jalan
-
NASIONAL27/07/2026 17:00 WIBKOSMAK Desak Prabowo Bentuk Tim Independen Usut Dugaan Korupsi Febrie Adriansyah

















