Berita
Ingin Cari Tahu Penyembap Kematian Pejabat, Korsel Tetap Berupaya Dekati Korut
Menteri Penyatuan Korea Selatan, Lee In-young, mengatakan akan terus mengupayakan dialog dengan Korea Utara untuk mencari tahu penyebab kematian pejabat Korsel yang ditembak mati di perairan Korut pada September lalu. Lee membuat pernyataan tersebut dalam sesi audit parlemen. “Kami harus menemukan metode untuk menyelesaikan masalah dengan lancar melalui dialog,” kata Lee seperti dilansir kantor berita […]
Menteri Penyatuan Korea Selatan, Lee In-young, mengatakan akan terus mengupayakan dialog dengan Korea Utara untuk mencari tahu penyebab kematian pejabat Korsel yang ditembak mati di perairan Korut pada September lalu.
Lee membuat pernyataan tersebut dalam sesi audit parlemen.
“Kami harus menemukan metode untuk menyelesaikan masalah dengan lancar melalui dialog,” kata Lee seperti dilansir kantor berita Korsel, Yonhap News Agency, Jumat (23/10).
Korsel telah menyerukan penyelidikan bersama dengan Korut atas insiden itu, tapi Pyongyang belum juga menanggapi. Saat ini, Seoul sedang mencari mayat pejabat tersebut yang masih dinyatakan hilang.
“Ini adalah sesuatu yang kami tidak akan pernah menyerah, untuk mengambil tubuhnya dan membawanya kembali ke keluarganya,” tambah Lee.
Lihat juga: Dikritik, Menlu Korsel Temui Keluarga Pejabat Dibunuh Korut
Pada 22 September lalu, seorang pejabat Korsel ditembak mati oleh militer Korut ketika sedang terapung-apung di perairan Korut. Sebelumnya, Korsel mengklaim bahwa tentara Korut menembak pejabat itu hingga tewas dan membakar tubuhnya.
Korut segera meminta maaf atas insiden tersebut, tapi juga membantah telah membakar jasad korban. Pihaknya mengklaim bahwa benda-benda yang dibakar oleh tentara mereka adalah barang-barang si pejabat sementara jenazahnya hilang.
Di sisi lain, Lee menyatakan tidak memihak kepada salah satu kandidat pemilihan presiden Amerika Serikat tahun ini, dan berharap negaranya tetap mempertahankan kerja sama dengan Negeri Paman Sam.
“Kami akan tetap siap menanggapi situasi apa pun terlepas dari hasil pemilu di November mendatang,” ucap Lee.
Menurut Lee, calon presiden AS dari Partai Demokrat, Joe Biden, diperkirakan belum tentu kembali pada kebijakan “kesabaran strategis” terhadap Korut yang diterapkan di masa pemerintahan Presiden Barack Obama.
“Jika Biden memenangkan pemilu, ada kemungkinan pemerintahan baru akan menjadi ‘masa jabatan ketiga Clinton’ daripada ‘masa jabatan ketiga Obama’,” kata Lee.
Lee merujuk pada kebijakan mantan Presiden Bill Clinton yang menempatkan Korut sebagai lawan daripada pendekatan “kesabaran strategis” pemerintahan Obama.
Pendekatan kesabaran strategis (strategic patience) berpusat pada menunggu Korut kembali ke meja perundingan sambil tetap menjaga sanksi dan tekanan.
-
NUSANTARA23/06/2026 17:44 WIBPolda Jabar Utamakan Pemulihan Trauma YTR Sebelum Pemeriksaan
-
OLAHRAGA23/06/2026 18:00 WIBPemerintah Siapkan Program Besar untuk Timnas, Target Lolos Piala Dunia 2030
-
JABODETABEK23/06/2026 19:47 WIBJakarta Catat 2.269 Aduan Kekerasan, Kampus Didorong Jadi Ruang Aman
-
OLAHRAGA24/06/2026 04:30 WIBBrazil vs Skotlandia: Penentu Tiket Lolos Grup C Piala Dunia
-
JABODETABEK24/06/2026 05:30 WIBCuaca 24 Juni: Jakarta Tak Bisa Lepas dari Hujan Ringan
-
NUSANTARA23/06/2026 22:31 WIBHerman Deru Dorong Inovasi Daerah Hadapi Efisiensi Anggaran dan Keterbatasan Fiskal
-
POLITIK23/06/2026 19:25 WIBPDIP: Putusan MK Nomor 90 Jadi Titik Kontroversi Politik Gibran
-
NASIONAL23/06/2026 20:00 WIBKomisi VII Desak BPOM Rutin Inspeksi AMDK di Seluruh Indonesia

















