DUNIA
Korut Tegaskan Status Nuklir Tak Bisa Diubah
AKTUALITAS.ID – Ketegangan geopolitik di Asia Timur kembali memanas. Korea Utara secara terbuka menolak seruan Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan untuk melakukan denuklirisasi, bahkan menegaskan bahwa statusnya sebagai negara pemilik senjata nuklir tidak dapat diubah dalam kondisi apa pun.
Pernyataan keras dari Pyongyang itu muncul hanya beberapa hari setelah pertemuan trilateral antara Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan di Tokyo yang kembali menyerukan denuklirisasi penuh di Semenanjung Korea.
Namun respons Korea Utara justru jauh lebih tajam dari sebelumnya.
Melalui pernyataan resmi yang disiarkan media pemerintah, Pyongyang menegaskan bahwa segala tekanan diplomatik maupun politik dari Washington dan sekutunya tidak akan mampu mengubah kebijakan strategis negara tersebut.
Bahkan Korea Utara menyebut isu denuklirisasi sebagai persoalan yang telah selesai dan tidak lagi menjadi bahan negosiasi.
Bagi rezim Kim Jong Un, kepemilikan senjata nuklir bukan sekadar alat pertahanan, melainkan fondasi utama yang menjamin keamanan nasional dan stabilitas kawasan.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi sinyal bahwa peluang kembalinya perundingan denuklirisasi dalam waktu dekat semakin kecil.
Pyongyang juga menuding Amerika Serikat sebagai pihak yang justru memperburuk situasi keamanan kawasan melalui kerja sama militer dan penjualan sistem persenjataan canggih kepada Jepang dan Korea Selatan.
Menurut Korea Utara, kondisi itu menjadi alasan utama mengapa mereka tidak akan pernah melepaskan kemampuan nuklir yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Sikap keras tersebut menegaskan perubahan besar dalam strategi Korea Utara sejak gagalnya perundingan antara Kim Jong Un dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Hanoi beberapa tahun lalu.
Sejak kegagalan dialog tersebut, program nuklir dan rudal Korea Utara terus berkembang dengan kecepatan yang mengkhawatirkan banyak negara.
Yang menarik, dalam berbagai pertemuan tingkat tinggi terbaru antara Korea Utara dan China, isu denuklirisasi bahkan nyaris tidak lagi muncul dalam pembahasan publik.
Hal ini memicu spekulasi bahwa Pyongyang semakin percaya diri mempertahankan statusnya sebagai kekuatan nuklir permanen.
Di sisi lain, Amerika Serikat bersama Jepang dan Korea Selatan terus berupaya menjaga tekanan diplomatik agar Korea Utara kembali ke meja perundingan.
Namun dengan pernyataan terbaru dari Pyongyang, jalan menuju denuklirisasi tampaknya semakin terjal.
Kini dunia menghadapi kenyataan baru: Korea Utara bukan lagi berbicara tentang kemungkinan mempertahankan nuklir, melainkan secara terbuka menyatakan bahwa status tersebut adalah garis merah yang tidak akan pernah dinegosiasikan.
Jika posisi ini terus bertahan, maka ketegangan di Semenanjung Korea berpotensi memasuki babak baru yang lebih rumit dan sulit diprediksi.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah Korea Utara akan menyerahkan senjata nuklirnya, melainkan bagaimana dunia akan menghadapi negara yang semakin tegas menyatakan dirinya sebagai kekuatan nuklir permanen. (Mun)
-
POLITIK06/08/2026 17:00 WIBMardani Nilai Oposisi dan Koalisi Sama-Sama Terhormat
-
RIAU06/08/2026 18:15 WIBMerawat Pesisir di Rupat, Ekspedisi Merah Putih Polda Riau Bantu Nelayan dan Tanam 1.000 Mangrove
-
EKBIS06/08/2026 11:30 WIBHarga Emas Antam Tembus Rp2,679 Juta per Gram
-
NASIONAL06/08/2026 11:00 WIBKPK: Raja Juli Diduga Terima Sin$14.000 dari Bupati Kuansing
-
NUSANTARA06/08/2026 13:30 WIBOknum Polisi Bunuh Lansia Usai Pinjaman Rp50 Juta Ditolak
-
NASIONAL06/08/2026 14:00 WIBSETARA Desak Prabowo Copot Kasus Febrie dari Kejagung
-
NUSANTARA06/08/2026 12:30 WIBDua Pendaki Tewas di Tebing Curam Gunung Piramid
-
POLITIK06/08/2026 16:00 WIBPengamat Politik: Pilpres 2029 Diprediksi Dikuasai Kepala Daerah

















