Berita
Keadilan Nabi Hadapi Pihak yang Sedang Bertengkar
Keadilan merupakan moral yang luhur dan karakteristik yang luar biasa yang menarik bagi orang-orang. Sifat ini menanamkan harapan di hati orang-orang yang dirugikan. Berdasarkan keadilan, masalah kembali ke jalur normal dan benar. Hak dikembalikan kepada pemiliknya, orang menjadi bahagia dan hidup diperbaiki. Kesejahteraan hadir selama ada keadilan, dan bila tidak ada maka orang akan sengsara. […]
Keadilan merupakan moral yang luhur dan karakteristik yang luar biasa yang menarik bagi orang-orang. Sifat ini menanamkan harapan di hati orang-orang yang dirugikan.
Berdasarkan keadilan, masalah kembali ke jalur normal dan benar. Hak dikembalikan kepada pemiliknya, orang menjadi bahagia dan hidup diperbaiki. Kesejahteraan hadir selama ada keadilan, dan bila tidak ada maka orang akan sengsara.
Keadilan adalah konstituen dalam karakter Nabi Muhammad SAW. Nabi mempraktikkan sifat ini di hadapan Allah SWT saat berurusan dengan orang lain, kerabat, sahabat, bahkan musuh yang keras kepala.
Dalam Alquran surat Al-Maidah ayat 8, Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa”.
Dalam memberikan penilaian di antara orang-orang yang bertengkar, Nabi SAW sangat adil dan tidak pernah melakukan ketidakadilan. Haram ibn Muhayyisa meriwayatkan, atas otoritas ayahnya, seekor unta betina milik Al-Baraa ‘ibn’ Aazib memasuki taman milik seseorang dan menyebabkan kerusakan.
Menanggapi perselisihan itu, Rasulullah SAW menilai perlindungan atas kebun adalah tanggung jawab pemiliknya di siang hari. Sementara, pemilik ternak harus menjaga kebun itu pada malam hari. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad.
Nabi SAW tidak menyetujui melakukan penangguhan hukuman yang telah ditentukan dan ditetapkan oleh Allah SWT, dengan tujuan menegakkan keadilan di antara orang-orang. Bahkan jika penjahat itu adalah kerabat atau orang favoritnya, Ia menentang penangguhan hukuman.
Ketika seorang wanita bangsawan dari suku Bani Makhzoom melakukan pencurian, Nabi SAW menolak lobi yang dilakukan Usaamah untuknya. Ia juga mengucapkan kata-katanya yang terkenal, “Sesungguhnya umat sebelum kalian celaka karena jika yang mencuri dari kalangan bangsawan mereka membiarkannya. Namun, jika yang mencuri dari golongan masyarakat biasa mereka menjatuhkan hukuman kepadanya. Demi Allah, jika seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri maka aku pun akan memotong tangannya”. (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Nabi SAW selalu mengingatkan para sahabat-Nya untuk menegakkan keadilan dalam segala hal dan mencapai keseimbangan. Melalui akhlak mulia ini, Nabi SAW dapat menarik perhatian orang, merangsang perasaan mereka terhadap prinsip-prinsip luhur, dan menetapkan metode unik yang membimbing seluruh umat manusia mengamati keadilan dan melenyapkan penindasan dan ketidakadilan.
-
RAGAM22/06/2026 15:30 WIBAlasan Mawar Merah Jadi Identitas Gerakan Sosialis
-
FOTO22/06/2026 20:05 WIBFOTO: Pemusnahan Pakaian Bermerk Palsu Senilai Hampir Rp. 1 Miliar
-
RAGAM22/06/2026 18:30 WIBIni 5 Rekomendasi Sepatu Nike Terjangkau untuk Lari
-
POLITIK22/06/2026 18:00 WIBMeski Gaet Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Jadi Partai Gurem
-
OLAHRAGA23/06/2026 03:00 WIBInggris vs Ghana: Misi Lolos Grup L Piala Dunia 2026
-
POLITIK22/06/2026 20:06 WIBBajak Kader dari Partai Lain, PSI Dinilai Krisis Figur
-
POLITIK22/06/2026 20:35 WIBPengamat Sebut Struktur Ketua Harian PSI Bukti Adanya Ketidakseimbangan dalam Manajemen Partai
-
RAGAM22/06/2026 19:45 WIBPersaingan SD Negeri dan Biaya Swasta Bikin Orang Tua Serba Salah

















