DUNIA
Perang Gaza Tak Kunjung Usai, Militer Israel Dituding Frustrasi oleh Motif Politik Netanyahu
AKTUALITAS.ID – Perang berkepanjangan di Gaza yang diperintahkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi tantangan serius dari dalam tubuh militer Israel sendiri. Semakin banyak tentara dan jenderal Israel Defense Forces (IDF) yang mulai menolak melanjutkan operasi militer di Jalur Gaza, menandakan adanya pembangkangan terhadap kebijakan perang Netanyahu.
The Telegraph melaporkan penolakan terbuka di kalangan militer Israel masih jarang terjadi, namun belakangan ini semakin meningkat. Puluhan surat kecaman atas perilaku perang Netanyahu telah ditandatangani oleh pasukan cadangan, diikuti dengan teguran dan pemecatan bagi yang menentang. Jumlah tentara cadangan yang hadir pun menurun drastis, memaksa petugas untuk menghubungi mereka secara panik melalui media sosial.
Jenderal Assaf Orion, mantan kepala perencanaan strategis IDF, menyatakan operasi militer di Gaza kini lebih dipengaruhi oleh kepentingan politik daripada tujuan strategis yang jelas. “Saya curiga perang berkepanjangan ini didorong oleh motif politik tersembunyi,” ujarnya.
Eran Etzion, mantan wakil kepala dewan keamanan nasional Israel, bahkan menegaskan perang ini merupakan alat politik bagi Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaannya di tengah ketidakstabilan politik domestik. Kekhawatiran Netanyahu soal runtuhnya pemerintah koalisinya menjadi pendorong utama lanjutan konflik ini.
Sementara itu, Letjen Eyal Zamir, kepala staf IDF, menyampaikan keraguannya atas manfaat lanjutan serangan, terutama karena risiko keselamatan sekitar 20 sandera yang masih hidup di Gaza. Zamir juga menolak rencana kontroversial Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, yang menginstruksikan pembentukan “kota kemanusiaan” di atas reruntuhan Rafah, yang dinilai sebagai langkah berisiko yang dapat menjerat pasukan Israel dalam kejahatan perang.
Di tengah tekanan internasional yang meningkat, termasuk kecaman dari negara-negara sekutu seperti Inggris dan Prancis, IDF telah menguasai sekitar 75 persen wilayah Gaza. Namun, perlawanan Hamas yang terus berlangsung dan kegagalan negosiasi antara Israel dan perwakilan Palestina di Doha memperpanjang konflik yang sudah menelan ribuan korban sipil.
Banyak tentara cadangan Israel, termasuk kapten Ron Feiner, menolak untuk kembali bertugas dalam operasi yang dinilai tidak berujung ini. Feiner bahkan dijatuhi hukuman penjara karena pembangkangannya, namun dia mewakili gelombang tentara muda yang menolak ikut perang yang dianggap tidak berkeadilan dan memicu penderitaan kemanusiaan besar di Gaza.
Situasi ini menunjukkan krisis yang tidak hanya melanda medan perang, tetapi juga memecah belah militer dan pemerintahan Israel sendiri, sementara rakyat Palestina terus menghadapi kesengsaraan yang mendalam. Tekanan internasional dan kritik internal kini menjadi tantangan besar bagi Netanyahu dalam mempertahankan strategi perang yang semakin dipertanyakan keabsahannya. (Mun)
-
POLITIK02/07/2026 19:30 WIBSurvei Citra Institute: Lagu MBG Lebih Dongkrak Citra Golkar daripada Bahlil
-
RAGAM02/07/2026 14:40 WIBDelapan Buku Puisi Esai Denny JA Resmi Terbit dalam Bahasa Inggris, Hadir di Google Books untuk Pembaca Dunia
-
NASIONAL02/07/2026 06:00 WIBDKPP: Jangan Jadikan Medsos sebagai Pengadilan Kebenaran
-
POLITIK02/07/2026 09:00 WIBGerindra Pastikan Tak Ada Keretakan Hubungan Prabowo dan Jokowi
-
RAGAM02/07/2026 20:00 WIBBakal Hadir Drama Komedi Romantis yang Dibintangi Lee Min Ho
-
NASIONAL02/07/2026 20:30 WIBKemensos Tindak Pendamping PKH yang Terbukti Rangkap Pekerjaan
-
JABODETABEK02/07/2026 17:45 WIBOperasi Pemadaman Darat di TPA Jatiwaringin Terus Dioptimalkan
-
POLITIK02/07/2026 18:00 WIBDKPP Tegaskan Peran Media Massa Penting untuk Transparansi Penegakan Kode Etik Pemilu

















