Connect with us

DUNIA

Israel Bombardir Lebanon Meski Gencatan Senjata Berlaku

Aktualitas.id -

Ilustrasi Israel bombardir Lebanon, foto: meta - ai

AKTUALITAS.ID – Harapan akan meredanya konflik di perbatasan Lebanon kembali diuji. Meski kesepakatan gencatan senjata diumumkan mulai berlaku pada Sabtu (20/6/2026), serangan militer Israel dilaporkan tetap menghantam wilayah selatan Lebanon.

Laporan dari media setempat menyebut sedikitnya 12 serangan udara dan rentetan tembakan artileri terjadi setelah gencatan senjata mulai diberlakukan. Situasi tersebut memicu tanda tanya besar mengenai efektivitas kesepakatan yang baru saja diumumkan.

Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) juga melaporkan serangan pesawat nirawak Israel yang menewaskan dua orang yang sedang mengendarai sepeda motor di wilayah selatan Lebanon setelah gencatan senjata berlaku.

Padahal sehari sebelumnya, para pejabat Amerika Serikat dan sejumlah diplomat negara Teluk mengumumkan bahwa Israel dan Hizbullah telah menyepakati penghentian sementara aksi militer guna meredakan ketegangan dan membuka jalan menuju proses diplomasi yang lebih luas.

Namun di lapangan, suara ledakan masih terdengar dan aktivitas militer belum benar-benar berhenti. Kondisi itu membuat banyak warga mempertanyakan apakah gencatan senjata benar-benar berjalan.

Jurnalis Al Jazeera, Heidi Pett, menggambarkan situasi tersebut sebagai sesuatu yang jauh dari suasana damai.

“Rasanya tidak seperti gencatan senjata. Setiap kali gencatan senjata diumumkan, justru terlihat peningkatan aktivitas militer di lapangan,” ujarnya.

Di sisi lain, Hizbullah menyatakan gencatan senjata hanya dapat dipertahankan apabila Israel juga mematuhinya. Israel sendiri menyatakan tetap berkomitmen terhadap penghentian konflik dengan syarat Hizbullah menghentikan seluruh aksi permusuhan.

Di tengah ketegangan yang belum mereda, Amerika Serikat menjadwalkan putaran negosiasi lanjutan antara Lebanon dan Israel di Washington pada 23–25 Juni. Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa gencatan senjata yang menyeluruh harus menjadi fondasi utama sebelum pembicaraan lebih lanjut dapat dilakukan.

Meski jalur diplomasi masih dibuka, perkembangan di lapangan menunjukkan bahwa harapan menuju perdamaian masih menghadapi tantangan besar, sementara warga sipil kembali menjadi pihak yang paling terdampak oleh berlanjutnya konflik. (Mun)

TRENDING