Connect with us

DUNIA

Iran Tak Lagi Aman, Milisi Kurdi Klaim Gempur Pangkalan IRGC

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Ketika ketegangan Iran dengan Amerika Serikat belum benar-benar mereda, ancaman baru muncul dari dalam negeri. Kelompok bersenjata Kurdi, Kurdistan Free Life Party (PJAK), mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sebuah pangkalan militer Iran di Marivan, Provinsi Kurdistan, wilayah barat negara itu yang selama bertahun-tahun menjadi pusat perlawanan etnis Kurdi terhadap pemerintah Iran.

Menurut laporan Hengaw Organization for Human Rights, bentrokan terjadi sekitar pukul 03.00 waktu setempat pada Minggu (2/8/2026) di dekat Desa Sianav, Kabupaten Marivan. Dalam insiden tersebut, seorang prajurit Angkatan Darat Iran dilaporkan tewas dan seorang lainnya mengalami luka serius.

Tentara yang tewas diidentifikasi sebagai Abolfazl Goudarzi, sementara satu personel lain dievakuasi ke fasilitas kesehatan di Marivan.

PJAK mengklaim tidak ada anggotanya yang menjadi korban dalam operasi tersebut. Klaim ini belum dapat diverifikasi secara independen.

Dalam pernyataan terpisah, Brigade ke-328 Angkatan Darat Iran mengonfirmasi pangkalannya diserang, namun menyebut serangan dilakukan menggunakan drone bermuatan bahan peledak (loitering munitions) serta granat berpeluncur roket (RPG).

Sehari setelah bentrokan, sayap bersenjata PJAK, East Kurdistan Defense Units (YRK), menyatakan operasi tersebut merupakan aksi balasan atas kematian tiga anggota keluarga Tavakoli pada pekan sebelumnya.

Menurut YRK, serangan itu merupakan respons atas apa yang mereka sebut sebagai pembunuhan keluarga Tavakoli di Kota Baneh.

Korban terdiri atas Mehdi Tavakoli, fotografer dan aktivis budaya Kurdi, saudarinya Somayyeh Tavakoli, seorang psikolog, serta ibu mereka Maryam Aslani.

Versi mengenai insiden itu masih diperdebatkan.

Kurdistan Human Rights Network (KHRN) menyatakan kendaraan keluarga tersebut ditembaki aparat Kementerian Intelijen Iran, sementara Hengaw menyebut pelaku penembakan berasal dari organisasi intelijen Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Sebaliknya, media pemerintah Iran mengklaim ketiga korban merupakan anggota PJAK bersenjata yang tewas dalam bentrokan. Klaim tersebut dibantah oleh kedua organisasi HAM yang menyatakan mereka adalah warga sipil.

YRK dalam pernyataannya menegaskan tidak akan membiarkan serangan terhadap warga Kurdi berlalu tanpa respons.

“Kami tidak akan membiarkan tindakan Republik Islam seperti ini tanpa balasan,” demikian pernyataan kelompok tersebut.

Laporan dari berbagai organisasi HAM juga menyebut keluarga korban sempat mendapat tekanan agar menyatakan kematian mereka disebabkan kecelakaan lalu lintas. Klaim tersebut belum mendapat tanggapan resmi dari pemerintah Iran.

PJAK sendiri merupakan kelompok oposisi Kurdi yang berdiri pada 2003 di Pegunungan Qandil dan memiliki hubungan historis dengan Kurdistan Workers’ Party (PKK).

Dalam beberapa pekan terakhir, bentrokan antara kelompok-kelompok oposisi Kurdi dan pasukan keamanan Iran dilaporkan meningkat di wilayah barat negara itu.

Munculnya kembali serangan bersenjata di kawasan tersebut menambah tantangan keamanan yang dihadapi Teheran. Di tengah ketegangan regional yang masih berlangsung, pemerintah Iran kini juga menghadapi eskalasi konflik dengan kelompok bersenjata di dalam wilayahnya sendiri, meski rincian dan skala ancaman masih diperdebatkan serta terus berkembang. (Mun)

Continue Reading

TRENDING