Connect with us

EKBIS

Rupiah Dibuka Melemah Rp17885

Aktualitas.id -

Ilustrasi rupiah melemah, dok: aktualitas.id

AKTUALITAS.ID – Nilai tukar rupiah kembali memulai perdagangan di zona negatif pada Selasa (30/6/2026). Mata uang Garuda melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di tengah menguatnya indeks dolar dan tekanan yang masih membayangi pasar keuangan global.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp17.885 per dolar AS, melemah 34 poin atau sekitar 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.851 per dolar AS.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah sempat berada di kisaran Rp17.957 per dolar AS pada waktu yang sama.

Adapun data Refinitiv mencatat rupiah pada awal perdagangan melemah sekitar 0,08 persen ke level Rp17.850 per dolar AS, membalikkan penguatan yang sempat terjadi pada sesi sebelumnya.

BACA JUGA  Dolar AS Masih Perkasa, Rupiah dan Mata Uang Asia Kompak Kebakaran Pagi Ini

Pelemahan rupiah terjadi seiring tekanan yang juga dialami mayoritas mata uang di kawasan Asia. Hingga pukul 09.00 WIB, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam setelah turun sekitar 0,49 persen terhadap dolar AS.

Di belakangnya, peso Filipina melemah sekitar 0,18 persen, yen Jepang terkoreksi 0,14 persen, dolar Taiwan turun 0,13 persen, dolar Singapura melemah 0,05 persen, dolar Hong Kong turun 0,04 persen, sedangkan baht Thailand bergerak melemah tipis.

Di sisi lain, ringgit Malaysia justru menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan Asia setelah naik sekitar 0,37 persen, disusul yuan China yang menguat tipis sekitar 0,03 persen.

Tekanan terhadap rupiah juga sejalan dengan penguatan Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kinerja mata uang Negeri Paman Sam terhadap enam mata uang utama dunia. Pada pukul 09.00 WIB, indeks tersebut naik sekitar 0,13 persen ke level 101,242, menandakan dolar AS masih mempertahankan dominasinya di pasar global.

BACA JUGA  Tragis! Rupiah Tersungkur ke Rp17.660

Pelaku pasar kini mencermati perkembangan ekonomi global dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang dinilai masih menjadi faktor utama penggerak nilai tukar. Pergerakan dolar AS dalam beberapa waktu ke depan diperkirakan akan terus memengaruhi volatilitas rupiah dan mata uang negara berkembang lainnya.

Dengan kondisi tersebut, pasar keuangan domestik diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif sepanjang sesi perdagangan, seiring investor menunggu sentimen baru baik dari dalam negeri maupun dari perkembangan ekonomi global. (Firman/Mun)

TRENDING