NASIONAL
ICW: Dukungan Jokowi untuk Revisi UU KPK Dinilai Upaya Cuci Tangan
AKTUALITAS.ID – Indonesia Corruption Watch (ICW) mengkritik dukungan mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo terhadap wacana revisi Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi (UU KPK). ICW menilai pernyataan tersebut sebagai paradoks dan upaya “cuci tangan” atas pelemahan lembaga antirasuah yang terjadi pada 2019.
Kepala Divisi Hukum dan Investigasi ICW, Wana Alamsyah, menyatakan Jokowi justru menjadi salah satu aktor kunci dalam proses revisi UU KPK yang dinilai melemahkan kewenangan lembaga tersebut.
“Wacana revisi yang disampaikan mantan Presiden Joko Widodo penuh paradoks dan upaya untuk ‘mencuci tangan’ kesalahan lama. Ia merupakan salah satu kontributor terbesar dalam pelemahan KPK,” ujar Wana dalam keterangan tertulis, Senin (16/2/2026).
ICW memaparkan dua alasan utama mengapa Jokowi dianggap berperan dalam pelemahan KPK.
Pertama, pada 11 September 2019, Jokowi menerbitkan Surat Presiden (Surpres) yang mendelegasikan pembahasan revisi UU KPK kepada Menteri Hukum dan HAM serta Menteri PAN-RB bersama DPR. Proses legislasi tersebut berjalan sangat cepat, hanya sekitar 13 hari hingga disahkan.
Kedua, ICW menyoroti sikap Jokowi saat gelombang protes mahasiswa dan masyarakat sipil terjadi pada September 2019. Meski memiliki kewenangan konstitusional untuk menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu), Jokowi dinilai tidak mengambil langkah tersebut.
“Mantan Presiden Jokowi tidak mengeluarkan Perppu ketika ada protes besar di September 2019, padahal ia memiliki hak untuk melakukan hal tersebut,” tegas Wana.
Sebelumnya, Jokowi menyatakan setuju dengan usulan mantan Ketua KPK Abraham Samad agar UU KPK dikembalikan ke versi sebelumnya. Ia juga menyebut bahwa revisi UU KPK merupakan inisiatif DPR.
“Ya, saya setuju, bagus,” kata Jokowi menanggapi usulan tersebut.
Polemik revisi UU KPK kembali mencuat seiring perdebatan publik mengenai efektivitas pemberantasan korupsi dan independensi KPK. ICW menegaskan bahwa evaluasi regulasi perlu disertai tanggung jawab politik atas keputusan masa lalu, bukan sekadar pernyataan dukungan di ruang publik.
Isu revisi UU KPK ini kembali menjadi sorotan, terutama terkait komitmen penguatan lembaga antirasuah di tengah tuntutan publik akan transparansi dan akuntabilitas pemerintahan. (Bowo/Mun)
-
EKBIS03/11/2026 09:30 WIBSempat Terbang, IHSG Tiba-tiba Terjun Bebas Lewati 5.050
-
POLITIK03/11/2026 06:00 WIBAndi Arief Bungkam PSI Soal Isu AHY Tikung Gibran
-
EKBIS03/11/2026 10:30 WIBEfek Boikot Membara! Saham RANS Hancur Lebur Kian Jauh di Bawah IPO
-
POLITIK03/11/2026 11:00 WIBDemokrat Ultimatum Pemerintah Jangan Lelet Urus KPU
-
JABODETABEK03/11/2026 06:30 WIBAwas Hangus! Cek 5 Lokasi SIM Keliling Jakarta Selasa 3 November
-
NASIONAL03/11/2026 10:00 WIBMenteri LH Bongkar Dalang Politik di Balik Kebakaran Hutan
-
JABODETABEK03/11/2026 05:30 WIBBMKG Prediksi Jakarta Berawan hingga Hujan Ringan
-
EKBIS03/11/2026 11:33 WIBRupiah Dipermainkan Dolar
















