NASIONAL
IDAI Buka Suara Soal Susu Formula di MBG, Risiko Stunting hingga ASI Disorot
AKTUALITAS.ID – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti rencana penyediaan susu formula dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) 2026 karena dinilai berpotensi berbenturan dengan kebijakan perlindungan air susu ibu (ASI) nasional.
Organisasi profesi dokter anak tersebut menegaskan pemberian susu formula untuk bayi semestinya dilakukan secara terbatas dan hanya berdasarkan indikasi medis tertentu sesuai ketentuan Undang-Undang Kesehatan, Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024, serta rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan UNICEF terkait pemberian ASI eksklusif selama enam bulan.
IDAI mengingatkan distribusi susu formula secara massal tanpa pengawasan medis berpotensi menurunkan angka keberhasilan ASI eksklusif dan mengganggu agenda peningkatan kesehatan anak.
“Pemberian susu formula bayi hanya dapat dilakukan dalam hal terdapat indikasi medis, ibu tidak ada, atau ibu terpisah dari bayi,” tulis IDAI dengan mengutip Pasal 35 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan.
Menurut IDAI, pola distribusi formula tanpa kontrol medis juga berisiko meningkatkan ketergantungan terhadap produk pangan olahan sekaligus memengaruhi upaya percepatan penurunan angka stunting di Indonesia.
Karena itu, IDAI meminta Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Kesehatan melakukan harmonisasi kebijakan agar implementasi Program Makan Bergizi Gratis tetap sejalan dengan strategi perlindungan ASI nasional.
IDAI mendorong pemerintah memprioritaskan makanan pendamping ASI (MPASI) berbasis pangan lokal dengan kandungan protein hewani seperti telur, ikan, dan daging dibanding penggunaan susu formula komersial.
Di sisi lain, Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan, dr. Lovely Daisy, turut mengingatkan dampak pemberian susu formula secara berlebihan pada bayi.
“Berkurangnya intensitas menyusui langsung juga dapat memengaruhi kedekatan antara ibu dan bayi (bonding) yang terjalin pada saat proses menyusui,” ujar dr. Lovely Daisy.
Selain berdampak pada kedekatan ibu dan anak, penggunaan susu formula berlebihan disebut dapat menurunkan frekuensi menyusu langsung, mengurangi produksi ASI, hingga meningkatkan risiko gangguan kesehatan tertentu pada bayi.
Meski mengkritisi rencana penyediaan susu formula dalam skema MBG, IDAI menegaskan tetap mendukung langkah pemerintah memperbaiki status gizi masyarakat dan menekan angka stunting sebagai bagian dari target menuju Indonesia Emas 2045. (YAN)
-
NUSANTARA21/05/2026 19:08 WIBGeger WNA Filipina Pakai KTP Indonesia untuk Urus Paspor
-
NUSANTARA22/05/2026 10:00 WIBSeleksi Koperasi Desa Merah Putih Membludak, 12.491 Peserta Ikuti Tes Mental Ideologi
-
JABODETABEK22/05/2026 08:00 WIBInvestigasi Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Bekasi Timur Masih Berjalan, Ini Temuan Awalnya
-
PAPUA TENGAH22/05/2026 13:00 WIBDinkes Mimika Dorong Pencegahan Stunting Lewat Kolaborasi Tokoh Masyarakat
-
DUNIA21/05/2026 20:09 WIBDeepfake AI Menyamar Jadi PM Singapura, Pebisnis Kehilangan Rp46 Miliar
-
NASIONAL21/05/2026 21:00 WIBDinkes Bekasi Dilaporkan ke KPK Terkait Pengadaan Ambulans dan Mobil Jenazah
-
JABODETABEK22/05/2026 09:04 WIBKonflik Ahmad Bahar dan Hercules Memanas, Putri Bahar Mengaku Diintimidasi
-
NASIONAL22/05/2026 14:00 WIBDenny JA: Jika Berhasil, Prabowo akan Dikenang sebagai Bapak Kemandirian Bangsa

















