Connect with us

NASIONAL

Wamenkomdigi Nezar Patria: Isi Kepala Kita Perlahan Dibentuk Algoritma Digital

Aktualitas.id -

Wamenkomdigi Nezar Patria menyampaikan paparan tentang ancaman algoritma digital dan pentingnya penguasaan teknologi di Indonesia.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria saat memberikan arahan pada kegiatan kunjungan kerja ke Pos AL Skow Sae, Kota Jayapura, Papua, Rabu (21/5). ANTARA/Qadri Pratiwi

AKTUALITAS.ID – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengingatkan generasi muda Indonesia menghadapi bentuk baru penjajahan di era digital melalui dominasi algoritma media sosial dan platform digital yang dinilai mampu memengaruhi pola pikir, perilaku, hingga persepsi publik.

Menurut Nezar, masyarakat saat ini hidup di ruang digital yang dimediasi platform teknologi sehingga informasi yang diterima pengguna semakin dipengaruhi algoritma. Kondisi itu, kata dia, membuat publik sulit membedakan fakta, opini, hingga manipulasi informasi.

“Hari ini hidup kita dimediasi platform digital. Bahkan isi kepala kita perlahan dibentuk algoritma. Apa yang kita suka terus diperlihatkan, sementara pandangan lain disingkirkan. Kita hidup dalam filter bubble dan echo chamber,” ujar Nezar melalui keterangan resmi di Jakarta, Minggu (24/05/2026).

Nezar menilai dominasi algoritma menjadi ancaman serius karena dapat memperkuat polarisasi sosial, mempercepat penyebaran misinformasi, serta melemahkan kemampuan berpikir kritis masyarakat, terutama generasi muda.

“Sekarang orang lebih dulu percaya sentimen dibanding fakta. Kalau suka langsung dipercaya, kalau tidak suka langsung ditolak. Ini yang berbahaya,” katanya.

Ia mengutip laporan World Economic Forum yang menempatkan misinformasi dan disinformasi sebagai salah satu risiko global terbesar pada 2026, bahkan melampaui sejumlah ancaman geopolitik dunia.

Selain menyoroti dominasi algoritma, Nezar juga mengingatkan percepatan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang dinilai mengubah peta persaingan global. Ia menyebut dunia kini memasuki fase perebutan penguasaan data, komputasi, semikonduktor, dan talenta digital.

“Hari ini perang yang paling penting adalah perang chip AI dan penguasaan teknologi. Kalau Indonesia hanya jadi pengguna teknologi, bonus demografi kita akan hilang tanpa dampak besar,” ujarnya.

Menurut Nezar, Indonesia memiliki modal besar berupa bonus demografi dan sumber daya mineral strategis yang dibutuhkan industri teknologi global. Namun, peluang tersebut tidak akan memberi dampak besar tanpa sumber daya manusia yang mampu menguasai sains dan teknologi.

Karena itu, ia meminta generasi muda memperkuat kemampuan science, technology, engineering, and mathematics (STEM) sekaligus meningkatkan literasi digital agar tidak mudah terjebak manipulasi algoritma.

“Kita harus masuk menjadi pemain dalam industri digital global. Jangan hanya jadi pasar dan konsumen teknologi,” tandasnya. (YAN)

TRENDING