Connect with us

NASIONAL

Rentetan Kontroversi Dadan Hindayana Selama di BGN

Aktualitas.id -

Dadan Hindayana

AKTUALITAS.ID – Pencopotan Dadan Hindayana dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional menutup masa kepemimpinannya yang diwarnai berbagai sorotan publik terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), mulai dari pernyataan kebijakan hingga polemik operasional di lapangan.

Sejumlah pernyataan Dadan sebelumnya menjadi perhatian publik, termasuk soal tingkat keracunan dalam program MBG yang disebut hanya sekitar 0,5 persen dari total penerima manfaat. “Tingkat kejadian keracunan hanya sekitar 0,5 persen,” ujarnya. Pernyataan ini memicu kritik karena dinilai tidak menggambarkan dampak kasus secara utuh.

Dalam kesempatan lain, ia menyebut MBG berkontribusi sekitar 48 persen terhadap kasus keracunan pangan nasional dalam rapat bersama DPR. Pernyataan tersebut kemudian memicu perdebatan luas mengenai dasar data yang digunakan dalam pengukuran risiko pangan.

Dari sisi konsep gizi, Dadan juga mengusulkan pemanfaatan belalang dan ulat sagu sebagai sumber protein alternatif dalam program nasional. Gagasan tersebut menuai pro dan kontra di masyarakat meski memiliki dasar ilmiah dari sisi kandungan gizi.

Ia juga sempat menyoroti konsumsi susu hingga dua liter per hari untuk anak sebagai bagian dari pemenuhan gizi. Pernyataan itu kemudian diperdebatkan karena dinilai tidak realistis jika dijadikan standar umum kebijakan.

Selain itu, muncul usulan perluasan Program Makan Bergizi Gratis untuk pelajar Indonesia di Arab Saudi yang turut menuai kritik karena dinilai belum menjadi prioritas di dalam negeri.

Di luar pernyataan tersebut, sorotan publik juga mengarah pada aspek kebijakan operasional program. Di tengah kritik terhadap kualitas makanan, Dadan mendorong pengadaan kendaraan operasional berupa puluhan ribu motor trail listrik dengan nilai sekitar Rp42 juta hingga Rp56 juta per unit untuk mendukung distribusi Program Makan Bergizi Gratis. Kebijakan ini dinilai sejumlah pihak sebagai berpotensi tidak tepat sasaran dan membebani anggaran program.

Polemik juga muncul terkait pelaksanaan MBG selama bulan Ramadan. Program tetap berjalan dengan skema makanan dibawa pulang untuk berbuka puasa. Namun menu yang dibagikan seperti roti, sereal instan, telur rebus, dan kurma menuai kritik di media sosial karena dinilai terlalu sederhana dan tidak sejalan dengan narasi “makan bergizi” yang selama ini digaungkan.

Selain itu, dugaan jual beli titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program MBG juga mencuat ke publik. Kepala Staf Presiden Dudung Abdurachman menyebut adanya informasi yang ia terima terkait isu tersebut. “Ya, saya pun dapat informasi seperti itu,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (03/06/2026). Namun dugaan itu hingga kini belum terbukti secara hukum.

Dengan berbagai dinamika tersebut, pergantian pimpinan di Badan Gizi Nasional menjadi penanda babak baru pengelolaan MBG di bawah kepemimpinan Nanik S. Deyang serta arahan Presiden Prabowo Subianto.(Yan)

TRENDING