OTOTEK
Bos Visa Ungkap Ancaman yang Bisa Guncang Sistem Pembayaran Dunia
AKTUALITAS.ID – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang semakin pesat kini memunculkan kekhawatiran baru di sektor keuangan global. Raksasa jaringan pembayaran dunia, Visa, mengaku telah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi serangan siber generasi baru yang ditenagai teknologi AI.
Langkah antisipasi itu bahkan dilakukan dengan membuka sebagian kode sumber sistem pertahanan siber canggih yang dimiliki perusahaan. Keputusan tersebut diambil sebagai bagian dari strategi memperkuat keamanan menghadapi ancaman digital yang dinilai semakin kompleks dan sulit diprediksi.
Presiden Teknologi Visa, Rajat Taneja, mengatakan berbagai insiden keamanan siber yang melibatkan AI sepanjang tahun ini menjadi alarm serius bagi industri teknologi dan keuangan dunia.
Menurutnya, sejumlah kerentanan yang sempat muncul pada model AI serta insiden serangan terhadap platform teknologi berbasis AI menunjukkan bahwa ancaman di masa depan dapat berkembang jauh lebih cepat dibandingkan sistem pertahanan konvensional.
“Sulit memprediksi seberapa buruknya nanti, namun kami telah melihat cuplikannya,” ujar Taneja seperti dikutip Reuters, Rabu (30/9/2026).
Ia menggambarkan berbagai insiden yang telah terjadi saat ini sebagai gambaran kecil dari tantangan yang berpotensi muncul dalam skala jauh lebih besar pada masa mendatang.
“Seringkali trailer jadi bagian terbaik dari sebuah film. Namun saya pikir ini jadi trailer kecil seperti apa filmnya nanti, jadi kita harus mempersiapkannya dan memiliki pola pikir mengakui kekuatan teknologi ini,” katanya.
Yang paling mengkhawatirkan, menurut Taneja, adalah munculnya serangan siber adaptif yang mampu berkembang secara mandiri tanpa instruksi langsung dari manusia. Dengan dukungan AI, serangan semacam ini diperkirakan dapat belajar, beradaptasi, dan menemukan celah keamanan secara otomatis.
Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan “kekuatan super” bagi para pelaku kejahatan siber dalam melancarkan aksinya terhadap berbagai sistem vital, termasuk layanan keuangan global.
“Jika pihak lawan memiliki agen AI, maka pertahanan juga harus punya agen. Jika tidak, akan terjadi ketidakseimbangan,” tegasnya.
Kekhawatiran Visa bukan tanpa alasan. Perusahaan ini diketahui memproses hingga satu miliar transaksi pembayaran setiap hari dengan total nilai transaksi mencapai sekitar US$15 triliun per tahun. Dengan skala sebesar itu, gangguan keamanan sekecil apa pun berpotensi menimbulkan dampak yang sangat luas terhadap sistem pembayaran internasional.
Meski waspada terhadap ancaman yang muncul, Visa tidak menolak kehadiran AI. Sebaliknya, perusahaan tersebut juga aktif mengembangkan dan menguji pemanfaatan teknologi AI untuk meningkatkan layanan kepada pelanggan.
Salah satu inovasi yang sedang diuji adalah penggunaan agen AI untuk membantu menyelesaikan proses transaksi dan belanja online secara lebih cepat dan efisien.
Peringatan dari Visa menjadi sinyal bahwa persaingan di era digital bukan lagi sekadar perlombaan inovasi teknologi, melainkan juga perlombaan membangun sistem pertahanan yang mampu menghadapi ancaman AI yang kian cerdas, cepat, dan sulit diprediksi. (Firman/Mun)
-
NASIONAL30/09/2026 18:30 WIBRegistrasi Ulang Penerima Bansos Diperluas, Pemerintah Targetkan 48 Juta Keluarga
-
NASIONAL30/09/2026 19:00 WIBPengamat Desak Investigasi Dugaan Lifestyle Deputi Bakom
-
RIAU30/09/2026 19:30 WIBBantan Bersolek Sambut MTQ ke-51 Bengkalis
-
DUNIA30/09/2026 18:00 WIBPasar Jadi Kuburan! Hujan Bom Militer Myanmar Renggut 33 Nyawa Sipil
-
NASIONAL30/09/2026 17:00 WIBBasarnas Tegaskan Pencarian 5 Jurnalis Belum Berhenti
-
POLITIK01/10/2026 06:00 WIBTak Masalah PT 8%, Guntur Romli Sebut Jokowi Sengaja Tantang Prabowo
-
DUNIA01/10/2026 00:00 WIBTega!, Pastor di AS Bunuh Istri Demi Selingkuhan 20 Tahun
-
NASIONAL01/10/2026 09:45 WIBAklamasi! Komisi III DPR Setujui Suyudi Jadi Kapolri
















