OPINI
Dasco dan Pergeseran Pusat Gravitasi Kekuasaan
AKTUALITAS.ID – Politik Indonesia tidak pernah benar-benar digerakkan hanya oleh mereka yang berdiri di podium. Sejarah berkali-kali menunjukkan, keputusan besar sering lahir dari ruang-ruang sunyi, dari percakapan tertutup, dari tangan-tangan yang tidak selalu terlihat kamera. Di sanalah kekuasaan sesungguhnya bekerja.
Dalam lanskap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, satu nama semakin sulit diabaikan: Sufmi Dasco Ahmad.
Ia bukan presiden. Ia bukan wakil presiden. Bahkan bukan ketua umum partai. Namun hampir setiap simpul politik nasional belakangan ini seolah memiliki jejak komunikasi yang mengarah kepadanya. Dari dinamika koalisi, tarik-ulur kepentingan parlemen, hingga berbagai isu strategis yang berpotensi memicu kebuntuan, nama Dasco hampir selalu muncul sebagai jembatan penyelesaian.
Fenomena ini bukan sekadar soal jabatan. Ini soal pusat gravitasi kekuasaan.
Dalam ilmu politik, gravitasi kekuasaan selalu bergerak mengikuti siapa yang paling dipercaya, paling mampu menghubungkan kepentingan, dan paling efektif menjaga stabilitas. Jabatan hanyalah legitimasi formal. Pengaruh adalah mata uang sesungguhnya.
Selama satu dekade terakhir, publik mengenal Luhut Binsar Pandjaitan sebagai figur yang kerap disebut “orang kuat” di era Presiden Joko Widodo. Kini, banyak pengamat melihat konfigurasi itu mulai berubah. Bukan berarti ada pengganti yang identik, melainkan muncul model baru pengelolaan kekuasaan yang lebih senyap namun tak kalah efektif.
Di sinilah Dasco mengambil ruang.
Berbeda dengan gaya politik yang keras dan frontal, Dasco membangun pengaruh melalui komunikasi yang lebih tenang. Ia jarang menjadi pusat kontroversi, tetapi justru sering hadir ketika konflik harus diselesaikan. Ia tidak banyak berbicara di depan publik, tetapi pembicaraannya di balik layar kerap menentukan arah kompromi.
Dalam politik modern, kemampuan seperti itu jauh lebih bernilai daripada sekadar retorika.
Tak heran jika media sosial melahirkan berbagai julukan seperti “Don Dasco”, “Lord Dasco”, hingga “Si Kancil Politik”. Julukan-julukan itu memang bukan pengakuan resmi, tetapi mencerminkan persepsi sebagian publik terhadap sosok yang dinilai lihai membaca momentum dan memainkan strategi.
Namun editorial ini juga perlu memberi catatan penting.
Politik tidak boleh direduksi menjadi kisah tentang satu tokoh. Pemerintahan tetap bekerja melalui institusi, kabinet, partai politik, parlemen, birokrasi, dan tentu saja keputusan Presiden sebagai pemegang mandat konstitusi. Menyebut Dasco sebagai satu-satunya pusat kekuasaan jelas merupakan penyederhanaan yang berlebihan.
Yang lebih tepat adalah melihat Dasco sebagai salah satu aktor paling berpengaruh dalam konfigurasi politik saat ini.
Pengaruh itu lahir bukan karena gelar, melainkan karena kepercayaan. Dalam politik, kepercayaan adalah modal yang tidak bisa dibeli, tidak bisa diwariskan, dan tidak bisa dipaksakan. Ia dibangun melalui konsistensi, efektivitas, serta kemampuan menyelesaikan persoalan ketika banyak orang memilih menjauh.
Di internal Gerindra pun terjadi dinamika menarik. Dahulu publik lebih akrab dengan figur-figur yang vokal sebagai wajah partai. Kini, perhatian perlahan bergeser kepada sosok yang bekerja lebih senyap tetapi memiliki daya jangkau politik yang luas. Pergeseran ini menunjukkan bahwa politik tidak selalu dimenangkan oleh mereka yang paling sering tampil, melainkan oleh mereka yang paling mampu menjaga keseimbangan kekuasaan.
Meski demikian, sejarah juga mengajarkan bahwa gravitasi politik tidak pernah bersifat permanen. Hari ini seseorang berada di pusat orbit kekuasaan, esok bisa saja tergeser oleh dinamika baru. Semua bergantung pada stabilitas pemerintahan, soliditas koalisi, kepercayaan Presiden, serta kemampuan menjawab tantangan yang terus berubah.
Pada akhirnya, fenomena Dasco bukan sekadar cerita tentang satu orang. Ia mencerminkan bagaimana kekuasaan di Indonesia terus bertransformasi. Dari politik yang mengandalkan panggung menuju politik yang semakin bertumpu pada negosiasi, konsolidasi, dan kemampuan membangun konsensus.
Di balik setiap keputusan besar, selalu ada mereka yang bekerja tanpa sorotan. Dan dalam konfigurasi politik hari ini, banyak mata memandang bahwa Sufmi Dasco Ahmad adalah salah satu di antaranya.
Apakah ia benar-benar “king maker”? Waktu yang akan menjawab. Namun satu hal sudah terlihat jelas: dalam peta kekuasaan Indonesia saat ini, mengabaikan peran Dasco berarti mengabaikan salah satu variabel penting yang membentuk arah politik nasional. (Mun)
-
OLAHRAGA17/07/2026 18:00 WIBTimnas Skateboard Indonesia Bidik Tiga Medali di Asian Games 2026
-
JABODETABEK18/07/2026 06:30 WIBLima Lokasi SIM Keliling Resmi Dibuka Hari Ini
-
NASIONAL17/07/2026 19:00 WIBDPR Minta BGN Selesaikan Masalah SPPG, Baru Libatkan Kantin Sekolah
-
NASIONAL18/07/2026 07:00 WIBKPK Beberkan Alasan Penolakan Laporan Amplop Raja Juli
-
RIAU17/07/2026 16:00 WIBDitreskrimsus Polda Riau Bongkar Sawmill Ilegal dan Tetapkan Satu Orang Tersangka
-
EKBIS17/07/2026 17:30 WIBORI030 Tawarkan Imbal Hasil Tetap, Kemenkeu Sebut Ideal untuk Pemula
-
OTOTEK17/07/2026 20:00 WIBCara Ampuh Blokir Komentar Judi Online di Instagram dan TikTok
-
JABODETABEK18/07/2026 08:30 WIBBos Perusahaan Tewas Misterius di Hotel Jaksel

















