Connect with us

POLITIK

MTI Minta Parpol Gunakan Rekam Jejak untuk Menyeleksi Pemimpin

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) mendorong partai politik untuk mulai mengubah pola rekrutmen calon pemimpin nasional menjelang Pemilu 2029. Organisasi tersebut menilai integritas, kompetensi, dan rekam jejak harus menjadi pertimbangan utama, bukan sekadar popularitas atau elektabilitas.

Pernyataan itu disampaikan menyusul hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertajuk “Kepemimpinan Nasional Demokratik Transformatif 2029: Studi Evaluasi Opinion Leaders” yang dirilis pada 15 Oktober 2026.

Dalam survei tersebut, pendiri MTI, Sudirman Said, memperoleh skor rata-rata kualitas kepemimpinan sebesar 6,3 dari skala 0 hingga 10. Nilai itu tercatat lebih tinggi dibanding Presiden Prabowo Subianto yang memperoleh skor 5,1 maupun Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan skor 4,4.

Direktur Eksekutif MTI, Ahmad Jilul QF, menilai hasil survei tersebut memiliki bobot penting karena melibatkan 200 opinion leaders yang terdiri atas 166 akademisi lintas disiplin dan 34 jurnalis senior.

BACA JUGA  Putus Ketergantungan dari Pemodal, Analis Usulkan Partai Politik Dirikan Badan Usaha Resmi

Menurutnya, temuan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki banyak figur potensial di luar lingkaran elite kekuasaan maupun pimpinan partai politik yang selama ini mendominasi panggung nasional.

“Hasil survei ini menunjukkan bangsa ini memiliki stok kepemimpinan yang sangat kaya. Karena itu, proses promosi dan seleksi sumber kader kepemimpinan perlu ditata ulang agar tidak hanya berputar pada nama-nama tertentu,” ujar Jilul dalam keterangannya.

Ia menegaskan bahwa mekanisme pencarian pemimpin nasional harus mulai berfokus pada kualitas substansial, termasuk integritas, kapasitas kepemimpinan, profesionalisme, dan komitmen terhadap demokrasi.

MTI menilai ketergantungan politik pada popularitas semata berpotensi menghambat lahirnya pemimpin berkualitas yang mampu menjawab berbagai tantangan bangsa di masa depan.

BACA JUGA  Dapat Kobarkan Perang Baru, Parpol di Sudan Tolak Normalisasi Hubungan dengan Israel

Jilul mengatakan sistem pemerintahan yang bersih tidak akan berjalan maksimal tanpa didukung figur pemimpin yang memiliki karakter kuat dan komitmen terhadap tata kelola pemerintahan yang baik.

Karena itu, MTI mendorong partai politik, kelompok masyarakat sipil, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mengadopsi sejumlah indikator kepemimpinan yang digunakan dalam survei SMRC sebagai instrumen penting dalam menjaring calon pemimpin masa depan.

Indikator tersebut mencakup komitmen terhadap demokrasi, profesionalisme TNI dan Polri, kemampuan tata kelola pemerintahan, integritas pribadi, hingga orientasi pada kesejahteraan masyarakat luas.

“Bagi MTI, sistem pemerintahan yang bersih memerlukan aktor-aktor berkualitas tinggi yang berkomitmen penuh pada nilai demokrasi dan pelayanan publik,” kata Jilul.

Ia menambahkan iklim politik menuju 2029 harus mulai bergerak meninggalkan pola lama yang hanya berfokus pada figur-figur konvensional.

BACA JUGA  Mardiono: Pada Usia ke-53 Tahun PPP Semakin Matang

Menurut MTI, Indonesia memiliki banyak tokoh dengan kapasitas kepemimpinan yang layak dipertimbangkan untuk tampil di panggung nasional. Namun, peluang mereka sering kali tertutup oleh dominasi popularitas, kekuatan partai, dan tingginya biaya politik.

Temuan survei SMRC ini pun dinilai sebagai pengingat bahwa kualitas kepemimpinan nasional tidak selalu identik dengan tingkat elektabilitas semata. Sebaliknya, integritas, kapasitas, serta rekam jejak justru menjadi fondasi penting dalam membangun pemerintahan yang efektif dan dipercaya publik.

Menjelang kontestasi politik 2029, MTI berharap partai-partai politik mulai membuka ruang lebih luas bagi tokoh-tokoh berintegritas dan kompeten agar proses regenerasi kepemimpinan nasional dapat berjalan lebih sehat, kompetitif, dan berkualitas.(Firman/Mun)

TRENDING