RAGAM
Ali Shariati dan Api Perlawanan Iran
AKTUALITAS.ID – Revolusi sering dianggap selesai ketika rezim tumbang dan sejarah menutup satu bab. Namun Iran hari ini seolah membantah anggapan itu. Bagi banyak kalangan, revolusi bukan hanya peristiwa 1979, melainkan proses panjang mempertahankan makna di tengah tekanan yang terus berubah bentuk.
Di tengah sanksi, isolasi, dan ancaman yang terus datang, Iran tetap berdiri. Negara itu memang terluka, tetapi tidak runtuh. Dari situ, muncul pembacaan baru: bahwa bertahan juga merupakan bentuk perlawanan yang paling dalam.
Sejak awal 2026, Iran kembali berada dalam situasi genting setelah serangan besar dari Amerika Serikat dan Israel menghantam sejumlah titik strategis. Infrastruktur rusak, kepemimpinan terguncang, dan ancaman datang bertubi-tubi. Namun secara politik, Iran tetap menunjukkan daya tahan yang sulit dipatahkan.
Di balik itu, nama Ali Shariati kembali banyak disebut. Intelektual muslim, sosiolog, dan revolusioner Iran ini dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam membentuk kesadaran politik dan sosial generasi Iran sebelum Revolusi 1979.
Shariati lahir pada 24 November 1933 di Mazinan, Iran. Ia tumbuh dalam keluarga berpendidikan dan sejak kecil sudah akrab dengan buku, filsafat, serta perdebatan pemikiran. Ayahnya, Muhammad Taqi Shariati, seorang ulama modernis, menjadi sosok awal yang membentuk cara berpikirnya.
Perjalanan intelektual Shariati tidak mulus. Di masa remaja, ia mengalami krisis eksistensial setelah terlalu dini bersentuhan dengan berbagai bacaan Barat. Namun kegelisahan itu justru membawanya pada pencarian yang lebih dalam tentang agama, manusia, dan keadilan sosial.
Setelah menempuh pendidikan di Mashhad dan melanjutkan studi di Sorbonne, Prancis, Shariati menyerap banyak pengaruh pemikiran modern, termasuk Frantz Fanon. Dari sana, ia merumuskan gagasan Islam progresif yang memandang agama sebagai energi pembebasan, bukan sekadar ritual.
Bagi Shariati, tauhid bukan hanya ajaran ketuhanan, melainkan pernyataan bahwa tidak ada kekuasaan absolut selain Tuhan. Dari prinsip itu, lahir kesimpulan bahwa segala bentuk penindasan bisa dan harus dilawan.
Ia juga memperkenalkan konsep raushanfikr, atau intelektual tercerahkan, yaitu manusia yang tidak bisa diam ketika melihat ketidakadilan menjadi hal biasa. Dalam pandangan Shariati, kesadaran bukanlah ketenangan, melainkan kegelisahan yang mendorong perubahan.
Pemikirannya dianggap berbahaya oleh rezim Shah Mohammad Reza Pahlavi. Ia diawasi, dikritik, bahkan dianggap melewati batas oleh sebagian kalangan konservatif. Meski begitu, gagasannya justru menyebar luas dan menjadi bahan bakar ideologis bagi gelombang besar yang akhirnya meledak dalam Revolusi Iran 1979.
Sejarawan Ervand Abrahamian menilai dunia kerap gagal memahami Revolusi Iran secara utuh karena terlalu menyederhanakannya sebagai gerakan keagamaan. Padahal, di balik itu ada pergulatan ide yang tajam dan kontribusi para intelektual seperti Shariati.
Kini, puluhan tahun setelah wafat pada 1977, warisan pemikirannya kembali relevan. Ketika Iran menghadapi tekanan besar pada 2026, banyak pihak melihat bahwa yang bertahan bukan hanya negara, melainkan juga kesadaran kolektif yang dibentuk oleh gagasan tentang martabat, pembebasan, dan perlawanan.
Kalimat paling terkenal dari Shariati pun kembali bergema: “Aku memberontak maka aku ada.”
Dalam konteks Iran hari ini, pemberontakan itu tidak selalu hadir sebagai teriakan. Kadang ia muncul sebagai keteguhan untuk tetap berdiri, meski dunia berulang kali berusaha meruntuhkan. (Mun)
-
NUSANTARA29/10/2026 07:30 WIBPaman Mau Perkosa Keponakan, Lansia Penolong Malah Dihajar Hingga Tewas
-
NASIONAL29/10/2026 07:00 WIBDPR Pasang Target Ambisius untuk RUU Perampasan Aset
-
NASIONAL29/10/2026 10:00 WIBDemo Bukan Perang! Koalisi Sipil Desak Pasukan TNI Ditarik dari Jalanan Jakart
-
JABODETABEK29/10/2026 05:30 WIBBMKG: Hujan Petir Diprediksi Guyur Sejumlah Wilayah Jakarta
-
NASIONAL29/10/2026 06:00 WIBDasco Minta Kritik Kabut Asap Dijawab dengan Penegakan Hukum
-
NASIONAL29/10/2026 11:00 WIBErna Sari Dewi: Pemuda Jangan Cuma Jadi Penonton Perubahan
-
EKBIS29/10/2026 10:30 WIBBaru Naik Dua Hari, Emas Antam Mendadak Berbalik Arah
-
NUSANTARA29/10/2026 11:30 WIBRibuan Rumah Terendam Banjir di Medan
















