Connect with us

EKBIS

Harga Minyak Anjlok Usai Trump Pilih Damai

Aktualitas.id -

Ilustrasi minyak dunia, foto: aktualitas.id - ai

AKTUALITAS.ID – Harga minyak dunia mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Kamis (4/6/2026) setelah muncul laporan bahwa Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tidak berniat melanjutkan perang penuh dengan Iran.

Kabar tersebut langsung meredakan kekhawatiran pasar terkait gangguan pasokan energi global yang selama beberapa pekan terakhir menjadi pendorong utama kenaikan harga minyak.

Laporan yang dikutip dari The Wall Street Journal menyebut Trump mengatakan kepada para ajudannya bahwa gencatan senjata yang telah berlangsung selama beberapa minggu dengan Iran masih berlaku meskipun terjadi sejumlah bentrokan sporadis di lapangan.

Reaksi pasar pun terjadi dengan cepat. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 3,1 persen dan ditutup pada level US$93,04 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent melemah 2,8 persen dan berakhir di posisi US$95,03 per barel.

Pada perdagangan lanjutan, kontrak berjangka Brent kembali turun tipis 0,22 persen menjadi US$95,24 per barel. Adapun WTI terkoreksi 0,11 persen ke level US$92,94 per barel.

Meski mengalami penurunan tajam, kedua kontrak minyak tersebut masih berpeluang mencatatkan kenaikan mingguan pertama dalam tiga pekan terakhir. WTI tercatat masih menguat lebih dari 6 persen sepanjang pekan berkat tingginya premi risiko akibat konflik geopolitik di Timur Tengah.

Pasar energi masih dibayangi ketidakpastian. Gedung Putih dilaporkan belum memberikan komentar resmi terkait laporan mengenai sikap Trump terhadap Iran. Di sisi lain, Presiden AS tersebut disebut tetap mempertimbangkan opsi mengakhiri gencatan senjata apabila Iran melakukan serangan yang menewaskan personel militer Amerika Serikat.

Faktor lain yang masih menjadi perhatian pelaku pasar adalah terbatasnya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Jalur tersebut menjadi rute penting bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia sehingga setiap gangguan berpotensi memicu lonjakan harga energi global.

Sementara itu, Pemimpin Hezbollah, Naim Qassem, dilaporkan menolak proposal kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat untuk menghentikan pertempuran antara Israel dan Lebanon. Posisi tersebut turut memengaruhi proses diplomasi yang melibatkan Iran dan Washington.

Meski harga minyak terkoreksi, sejumlah analis menilai risiko kenaikan harga masih terbuka. Terbatasnya pasokan global dan menurunnya persediaan minyak dunia berpotensi menjadi katalis penguatan harga pada kuartal ketiga tahun ini.

Dari sisi teknikal, analis pasar komoditas Sycamore menyebut tren kenaikan masih dapat berlanjut selama harga WTI mampu bertahan di atas area support utama di kisaran US$80 per barel.

Di tengah gejolak geopolitik yang berlangsung, OPEC tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global sebesar 1,2 juta barel per hari pada 2026. Organisasi tersebut menilai kebutuhan energi dunia masih akan tumbuh meski ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global belum sepenuhnya mereda.

Data pelayaran terbaru juga menunjukkan ekspor minyak Iran turun ke level terendah dalam enam tahun terakhir. Namun, lemahnya permintaan dari China membatasi potensi kenaikan harga yang biasanya terjadi saat pasokan global terganggu.

Dengan kombinasi antara harapan perdamaian, risiko geopolitik yang masih tinggi, serta ketatnya pasokan global, pergerakan harga minyak dunia diperkirakan akan tetap sangat volatil dalam beberapa pekan ke depan. (Firman/Mun)

TRENDING