DUNIA
Netanyahu Pecat 2 Pejabat Mossad Usai Operasi Gagal
AKTUALITAS.ID – Rencana untuk menggulingkan pemerintahan Iran disebut berujung kegagalan. Dampaknya, dua pejabat senior badan intelijen Israel, Mossad, diberhentikan dan memicu gejolak di internal lembaga intelijen tersebut.
Keputusan itu kini menjadi sorotan tajam. Sejumlah kalangan keamanan Israel mempertanyakan dasar pemecatan tersebut dan menilai langkah itu berpotensi mengalihkan perhatian dari persoalan yang lebih besar, termasuk tanggung jawab politik Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Informasi mengenai pemecatan dua pejabat senior Mossad tersebut dilaporkan Channel 12 Israel pada Kamis (6/8/2026).
Yang membuat persoalan semakin panas adalah dugaan bahwa operasi tersebut sejak awal bukan sekadar operasi intelijen biasa. Skema yang disebut telah disiapkan itu dikaitkan dengan upaya mendorong perubahan politik di Iran dengan memanfaatkan kelompok-kelompok minoritas dan jaringan oposisi.
Menurut laporan The New York Times pada Maret 2026, rencana tersebut sebelumnya disebut mendapat persetujuan Netanyahu. Perdana Menteri Israel itu juga dilaporkan telah membahas skema tersebut dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Rencana tersebut disebut mencakup serangkaian serangan udara di sekitar perbatasan Iran dengan wilayah Kurdistan Irak. Kelompok separatis Kurdi diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun pemberontakan bersenjata terhadap pemerintah Iran.
Namun, rencana besar tersebut akhirnya tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Trump bahkan pada April 2026 sempat mengindikasikan adanya dukungan asing terhadap aksi protes di Iran. Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengatakan senjata telah dikirim kepada para demonstran.
“Kami mengirim senjata kepada para pengunjuk rasa, banyak dari mereka,” kata Trump.
Trump juga menyebut kelompok Kurdi telah menyimpan senjata tersebut.
Di sinilah polemik mulai meledak.
Seorang pejabat Mossad yang dikutip surat kabar Israel Maariv menyatakan rencana tersebut sebenarnya bukan gagal dalam pelaksanaan. Menurut sumber tersebut, operasi itu justru tidak pernah dijalankan karena tidak memperoleh persetujuan Trump.
“Rencana itu tidak gagal. Rencana itu hanya tidak pernah dilaksanakan karena tidak mendapat persetujuan Trump,” ujar sumber tersebut, seperti dikutip Maariv.
Pernyataan tersebut secara tidak langsung memunculkan pertanyaan besar: jika operasi tidak pernah dijalankan, mengapa dua pejabat Mossad justru diberhentikan?
Sumber yang sama menilai terdapat ketidakpuasan signifikan di internal Mossad. Bahkan, muncul tudingan bahwa keputusan tersebut berkaitan dengan kepentingan politik Netanyahu menjelang pemilu.
Sorotan juga mengarah kepada Kepala Mossad Roman Gofman. Ia baru ditunjuk sebagai direktur Mossad pada Juni 2026.
Menurut sumber Maariv, Netanyahu disebut telah merusak badan intelijen Israel. Gofman bahkan dituding ditempatkan dalam posisi tersebut untuk membersihkan persoalan yang muncul akibat kegagalan kepemimpinan politik Israel dalam menangani perang.
Gofman sendiri disebut pernah terlibat dalam pengerjaan rencana tersebut ketika masih menjabat sebagai sekretaris militer Netanyahu.
Namun, menurut mantan pejabat Mossad yang dikutip Maariv, sikap Gofman kini justru berseberangan dengan rencana yang sebelumnya pernah ia dukung dan promosikan.
Situasi ini membuat pemecatan dua pejabat senior tersebut semakin kontroversial.
Kritik juga datang dari kalangan mantan pejabat Mossad yang dikutip penyiar publik Israel, Kan.
Salah seorang mantan pejabat mempertanyakan keputusan tersebut karena dua pejabat yang dipecat bukan pihak yang disebut sebagai pengambil keputusan utama dalam rencana tersebut.
Bahkan, menurutnya, terdapat kegagalan lain yang dinilai lebih besar tetapi tidak berujung pada pemecatan pejabat terkait.
Kedua pejabat yang diberhentikan juga disebut baru menduduki posisi mereka ketika operasi tersebut sudah berjalan. Fakta tersebut semakin memunculkan pertanyaan mengenai dasar keputusan pemecatan.
Pertanyaan besarnya kini bukan hanya mengapa rencana menggulingkan pemerintahan Iran gagal, tetapi juga siapa yang sebenarnya harus bertanggung jawab atas kegagalan tersebut.
Koresponden Yedioth Ahronoth, Ronen Bergman, juga melaporkan adanya pandangan bahwa pemecatan tersebut dapat dibaca sebagai bentuk balas jasa Gofman kepada Netanyahu atas pengangkatannya sebagai kepala Mossad.
Pandangan itu menimbulkan dugaan bahwa pergantian pejabat di tubuh Mossad berpotensi menjadi cara untuk menggeser pusat perhatian dari tekanan terhadap Netanyahu.
Di sisi lain, Netanyahu selama ini menggambarkan perang Israel sebagai keberhasilan besar.
Namun, laporan mengenai rencana perubahan rezim Iran yang tidak terealisasi membuka sisi lain dari narasi tersebut. Salah satu tujuan strategis yang dikaitkan dengan perang mengubah pemerintahan di Teheran hingga kini belum terwujud.
Pemecatan dua pejabat Mossad akhirnya berubah menjadi persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar pergantian personel. (Mun)
-
NUSANTARA07/08/2026 23:00 WIBPuntung Rokok Bikin 100 Ha Lahan Banggai Terbakar
-
DUNIA08/08/2026 00:00 WIBSerangan Topan Dolphin Paksa Ratusan Ribu Nyawa Mengungsi
-
OASE08/08/2026 05:00 WIBSalah Pilih Teman Bisa Jadi Penyesalan di Akhirat
-
DUNIA07/08/2026 21:00 WIBPenembakan Sekolah Thailand Tewaskan Guru dan Korban Lain
-
JABODETABEK07/08/2026 22:00 WIBPelaku Penyerangan Remaja Depok Diciduk di Margonda
-
JABODETABEK08/08/2026 05:30 WIBJakarta Cerah Berawan Saat Libur Akhir Pekan
-
JABODETABEK08/08/2026 06:30 WIBPolda Metro Buka 5 Titik SIM Keliling Sabtu
-
NUSANTARA08/08/2026 07:30 WIBBNPB Jatuhkan Ribuan Liter Air Padamkan Api Kawasan Bromo

















