Connect with us

DUNIA

Korban Ebola di Kongo Tembus 2.000 Jiwa

Aktualitas.id -

Ilustrasi, foto: meta - ai

AKTUALITAS.ID – Ancaman krisis kesehatan global kembali di depan mata. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melontarkan peringatan mencekam terkait gelombang wabah Ebola yang kian ganas memburu nyawa di Republik Demokratik Kongo (DR Kongo). WHO menyebut laju penularan virus mematikan ini kini jauh lebih cepat dibanding kemampuan otoritas untuk mengendalikannya.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan jika tren penyebaran tidak segera diredam, tragedi berdarah ini bakal melampaui rekor wabah Ebola paling mematikan dalam sejarah manusia di Afrika Barat periode 2014-2016 yang merenggut lebih dari 11.000 jiwa.

“Dengan laju saat ini, wabah ini berisiko besar melampaui bencana Ebola Afrika Barat,” tegas Tedros, Rabu (12/8/2026).

BACA JUGA  WHO Peringatkan Peningkatan Kasus Flu Burung pada Manusia, Anak di AS Terinfeksi

Pemerintah setempat baru mengumumkan darurat wabah pada 15 Mei lalu. Namun, rahasia kelam terkuak lewat pengurutan genetik yang membuktikan bahwa virus mematikan ini sebenarnya sudah bergerilya menulari warga sejak Februari.

Situasi makin menggentarkan karena petaka ini dipicu oleh spesies virus Bundibugyo—jenis varian langka yang hingga detik ini belum memiliki vaksin maupun obat medis resmi yang disetujui secara global.

Kondisi penanganan di lapangan pun seperti neraka. Wilayah episentrum berada di zona terpencil dan terkepung konflik bersenjata dekat perbatasan Sudan Selatan, Uganda, dan Rwanda. Jalur transportasi yang hancur, fasilitas medis penunjang yang sekarat, hingga gempuran disinformasi membuat petugas kesehatan kewalahan. Parahnya lagi, aksi mogok kerja tenaga medis akibat gaji yang menunggak makin memperlancar jalan virus memburu korbannya.

BACA JUGA  WHO Sebut Belum Ada Bukti Pasien Sembuh Bisa Kebal Corona

Direktur Operasi Peringatan dan Respons Darurat Kesehatan WHO, Dr. Abdirahman Mahamud, memprediksikan gelombang wabah ini baru akan mencapai puncaknya dalam enam bulan ke depan untuk skenario moderat. Namun, jika situasi terus memburuk tanpa intervensi masif, petaka ini dipastikan bakal terus membantai warga hingga 9 hingga 12 bulan mendatang.

“Jumlah korban tewas akan melonjak tak terkendali jika akses bagi tim medis ke wilayah terdampak terus terhalang,” bunyi peringatan keras pejabat WHO. (Mun)

TRENDING